Review

Arti Culametan dan Istilah Sifat-sifat Jelek Lainnya dalam Bahasa Sunda

share to whatsapp



Arti istilah Culametan bahasa Sunda

Nama Risa atau biasa dipanggil Ica mungkin tak akan viral bila dia tidak menyanyikan lagu culamétan yang dari akhir Januari hingga awal Februari 2020 ini lagi viral di media sosial.  Dengan gaya judes sambil duduk di bangku kelasnya, ia menyanyikan umpatan khas banyolan Sunda plus penggalan lirik lagu dangdut "Dua Kursi" dari Rita Sugiarto:

“Sia mah hirup téh culamétan mét mét, culametan mét mét. Jigana mah dipéntaan deui téh embung sia mah. Siga na mah, kalau ada makanan di meja mangga legleg ku sia, terorét terorét!” kata si gadis imut dalam video berdurasi beberapa belas detik tersebut. Sosoknya makin viral setelah akun IG @dedeomet membuat versi remix-nya.

Lalu siapa sosok gadis berkerudung putih yang bawain culamétan tersebut? Gadis mungil tersebut katanya merupakan siswi SMP kelas VII di SMPN Solokan Jeruk, Kab. Bandung. Penasaran dengan sosoknya? Cek aja akun IG @risa_culametan.

Arti istilah culamétan
Lalu apa sih makna dari bahasa Sunda culametan? Yuk, kita terjemahkan apa yang diucapkan Risa:
“Sia mah hirup téh culamétan mét mét, culametan mét mét. Jigana mah dipentaan deui téh embung sia mah. Siga na mah, kalau ada makanan di meja mangga legleg ku sia, terorét terorét!”
[ Kamu tuh hidup culametan met met, culametan met met. Kayaknya dimintai (makanan) lagi enggak mau kamu tuh! Kayaknya kalau ada makan di meja silakan makan sama kamu, teroret teroret!]

Ungkapan dalam kalimat tersebut termasuk bahasa Sunda kasar, seperti kata sia yang bahasa akrabnya manéh dan bahasa halusnya anjeun yang artinya 'kamu'. Legleg merupakan ungkapan kasar dari kata dahar (bahasa akrab) dan bahasa halusnya tuang yang artinya 'makan'. Kata-kata tersebut biasanya diungkapkan dalam situasi sedang marah ataupun kesal.

Culamétan (bahasa Indonesia: 'celamitan')sifat seseorang yang suka minta/nyoba makanan orang lain. Kayaknya si culamétan selalu penasaran akan makanan yang dimakan orang lain. Parahnya, dia sendiri kalo punya makanan pelit banget. Ini dalam bahasa Sunda mengandung makna sifat yang kurang baik, karena bisa saja bikin risih atau kesal orang lain.

Bayangin aja, lagi-lagi nikmat menyantap makanan ada orang lain yang ganggu mood/suasana kenikmatan tersebut. Si culamétan biasanya orang yang malas tapi pengen enaknya aja. Kalau mau makanan kayak gitu, apa capeknya sih beli sendiri?

Istilah culamétan pun kemudian meluas maknanya. Contohnya, bila temannya punya barang baru, si culametan penasaran aja pengen ikut nyobain. Bahkan ada kasus lebih parah, kalau temannya punya pacar,. si culametan kayak pengen deketin si pacar kawannya tersebut. Orang kayak gini biasanya bikin sebel dan dijauhin teman-temannya.

Selain sifat culamétan, sifat lain yang dianggap jelek dalam dalam bahasa Sunda, di antaranya:
Baketut: wajah yang selalu terlihat masam/manyun
- Balaga: banyak gaya, karena sok punya harta atau kemampuan tertentu
Bangkawarah: kelakuan yang jelek seperti tidak mendapat pengajaran (kurang ajar)
- Cologog: tidak sopan, minta sesuatu atau masuk ke rumah orang tanpa permisi/izin dulu.
- Culangung: tidak sopan kepada yang lebih tua, istilah lainnya calutak
- Codéka: kelakuan tidak baik kepada orang lain, misal mencelakakan
Korét/pedit: pelit
Adigung: takabur, punya rasa lebih hebat dari orang lain (sombong).
Aduan: suka mengadukan permasalahan yang dialami orang lain ke orang lain, bikin masalah tambah runyam karena biasanya omongannya dibumbui biar orang lain jadi musuhan.
Agul: suka menceritakan harta, keturunan, atau keahliannya kepada orang lain dengan maksud disanjung (sombong).
Babarian: mudah tersinggung atau mudah sedih.
Badeur: nakal, tidak bisa dinasihati
Bangor: nakal, tidak bisa dilarang
Baragajul: sebutan kepada orang yang kelakuannya tidak baik, segala cara dihalalkan
Barangasan: gampang marah
Basangkal: anak yang tidak nurut sama orang tua
Belegug: tidak tahu tatakrama atau kesopanan
Nalaktak: anak yang suka manjat atau bepergian dan tak mau diam namun mengundang celaka
Karooh: mudah tertarik/minta barang yang tidak seberapa
Nurustunjung: tidak tahu malu
Panasan: gampang iri pada apa yang dimiliki orang lain (biasanya barang/harta)
Songong: urang yang sok dan tak mau menghargai orang lain terutama kepada yang lebih tua
Teu kaopan: gampang marah, mudah tersinggung, mudah sedih/murung

------------
Artikel lainnya seputar belajar bahasa Sunda LIHAT DI SINI



share to whatsapp