Review

Sejarah Pembangunan Tugu Pahlawan Toha Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung




Sejarah Pembangunan Tugu Pahlawan Toha Dayeuhkolot Kabupaten Bandung

Bila Anda berkunjung atau lewat ke daerah Dayeuhkolot (sebelum pasar), di sisi markas Zeni Tempur (Zipur) Dayeuhkolot terdapat Tugu Moh. Toha. Inilah monumen sejarah yang oleh masyarakat setempat biasa disebut "balong" atau kolam. Inilah bekas ledakan yang dilakukan oleh Mohamad Toha, tokoh pahlawan dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada tahun 1946.

Moh. Toha meninggal dalam misi penghancuran gudang amunisi milik Tentara Sekutu bersama rekannya, M. Ramdan, setelah meledakkan dinamit dalam gudang amunisi tersebut. Kini, nama keduanya pun diabadikan jadi nama jalan di Kota Bandung. Kini di tugu tersebut masih ada kolam bekas ledakan. Tugu di seberang timur RS Bina Sehat tersebut diapit oleh Jalan Raya Dayeukolot (utara), Markas Zeni Tempur (barat), pertokoan dan permukiman penduduk (timur), dan bangunan SD Negeri (selatan). Kolam tersebut pun kadang biasa dijadikan tempat pemancingan dan tempat nongkrong anak-anak muda.

Ada sumber menarik yang didapat dari Majalah Suara Marhaenis edisi 15-30 Desember 1957 koleksi kami.  Dalam majalah politik, ekonomi, dan sosial  di zaman tersebut, ada artikel tentangan pahlawan Toha dengan judul "Sekelumit Peristiwa Jibaku Pahlawan Toha dan Ramdan" yang dimuat pada halaman 18-19. Dalam artikel tersebut memuat informasi kisah heroik Moh. Toha dan Moh. Ramdan saat meledakkan gudang mesiu di Dayeuhkolot tersebut.

Selain itu, ada juga foto-foto saat Monumen Pahlawan Toha dibangun. Namun, kondisi monumen tersebut kini sudah berbeda dengan aslinya. Dimana sekarang ada beberapa perubahan termasuk adanya ornamen api dan patung Moh. Toha. Dalam penjelasan majalah Suara Marhaenis edisi 15-30 Desember 1957 disebutkan bahwa tugu tersebut bentuknya sama dengan Tugu Kemerdekaan di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Dipaparkan pula bahwa halaman tugu Moh. Toha bagian selatan, timur, dan utara merupakan kolam yang luasnya kurang lebih 3000 meter persegi dan dalamnya 3,5 meter. Tugu tersebut untuk memperingati kepahlawanan Moh. Toha dan Moh. Ramdan. Tugu tersebut diresmikan pada 10 November 1957 bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Profil Moh. Toha dan M. Ramdan
Dalam majalah Suara Marhaenis edisi 15-30 Desember 1957 disebutkan, Moh. Toha dilahirkan di Banceuy, Desa Suniaraja, Kotapraja Bandung pada tahun 1927. Pada tahun 1940 ia tamat Sekolah Vervolg Babatan (Bandung). Pada tahun 1943, ia bekerja di bengkel motor di kawasan Cikudapateuh, Kota Bandung. Selanjutnya, Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia juga mampu bercakap dalam bahasa Jepang.

Waktu revolusi pecah, ia bergabung dengan Barisan Banteng Republik Indonesia. Ketika Kota Bandung dibagi dua (utara dan selatan), Toha ditempatkan di pos depan Banceuy dibawah pimpinan Ben Alamsyah dan Rachmat Sulaeman. Ia kemudian menempati pos di Baleendah. Kira-kira seminggu sebelum ia menyusup, ia pergi ke daerah Garut dimana ibu dan kakeknya mengungsi untuk meminta doa restu. Bahkan kakeknya diminta mengantar dia ke posnya di Baleendah. Toha gugur pada usia 19 tahun.

Disebutkan pula dalam majalah tersebut, bahwa ibunya Nyi Nariyah tahun 1957 tersebut tinggal di Kebon Jukur.  Ibunya tersebut berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Muhammad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Kakeknya sendiri waktu itu tinggal di daerah Banceuy.

Sementara sosok M Ramdan tidak meninggalkan riwayat yang begitu lengkap. Disebutkan ia berasal dari daerah Sapan (Majalaya). Saat peristiwa Bandung Lautan Api, keluarganya mengungsi ke Leles, Garut. Ramdan seumuran dengan Moh. Toha. Waktu revolusi, ia bergabung dengan Hisbullah dan ditempatkan di pos depan pimpinan Husinsyah. Ramdan mempunyai kakak bernama Ubro (terakhir berpangkat Sersan Mayor pada 1946). Kakaknya tersebut, pada 1957-an dikabarkan menjadi sopir truk pabrik tekstil di daerah Cimalaka (Sumedang).

Biaya Pembangunan Tugu Pahlawan Toha
Tugu ini dibangun di bekas ledakan gudang mesiu. Pada 1957, di sebelah timur kolam tersebut tumbuh kampung baru yang terdiri kurang lebih 70 rumah. Kampung itu bernama Babakan Toha dan gang-gang di kampung tersebut diberi nama Gang Toha I, Gang Toha II, sampai Gang Toha VI. Ada pula yang mengatakan bahwa sebetulnya tempat tersebut bukan lagi Dayeuhkolot alias "kota tua" (dayeuh = kota, kolot = tua) melainkan Dayeuhngora (kota muda).

Panitia pembangunan Tugu Pahlawan Toha diketuai oleh Letnan Alibasyah dan terdiri dari beberapa anggota tentara, pegawai, lurah, pamong desa, dan sejumlah partikulir terkemuka pada waktu itu. Menurut taksiran semula, pembangunan tugu tersebut dibutuhkan dana Rp12.000. Setelah dengan rupa-rupa uang masuk, mulailah tugu didirikan dan saat pembangunan, panitia kekurangan dana Rp3000 untuk pembelian pipa besi, granit, dan pembayaran pekerja. Namun kemudian bantuan demi bantuan dari berbagai pihak pun datang sehingga tugu tersebut bisa diselesaikan.

Profil bangunan bersejarah lainnya LIHAT DI SINI.