Review

Cerita di Balik 10 Bangunan dan Area Publik di Bandung



Bangunan bersejarah di Bandung

Bangunan-bangunan dan area publik yang ada di Bandung menyimpan kenangan tersendiri. Bangunan-bangunan tersebut ada yang memiliki kisah bersejarah, bekas pusat bisnis, ataupun bekas tempat hiburan. Mungkin bagi wisatawan, bangunan-bangunan yang punya cerita historis yang umum dikenal seperti Gedung Merdeka, Gedung Sate, Museum Geologi, Villa Isola, hingga Masjid Agung Bandung.

Berikut ini kami sajikan beberapa bangunan dan area publik  yang punya cerita tersendiri bagi urang Bandung.

1. Jaya Plaza Kosambi
Lokasinya agak ke sebelah timur Pasar Kosambi. Persisnya dekat dengan Stasiun KA Cikudapateuh. Pusat perbelanjaan elektronik, khususnya komputer ini, dulu pada tahun 1980-an pernah memiliki bioskop di dalamnya. Bioskop itu dulu berada di lantai teratas (lantai 3) yang sekarang menjadi pertokoan komputer dan peralatannya sebelum terbakar. Di sini dulu ada Bioskop Plaza Theater namanya.

2. Gedung Rumentang Siang
Ini lokasinya bersebelahan dengan Pasar Kosambi. Di Pasar Kosambi sendiri dulu ada bioskop terkenal yakni Bandung Theater dan sekarang sudah tidak ada. Sementara yang sekarang jadi Gedung Pertunjukan Rumentang Siang, dulunya adalah Rivoli Theater yang dibangun tahun 1935. Bioskop Rivoli kemudian berganti nama menjadi Bioskop Fadjar pada tahun 1970-an. Bioskop itu biasa memutar film mandarin. Pada tahun 1980-an, Bioskop Fadjar tutup dan gedungnya berganti menjadi gedung pertunjukan Rumentang Siang.

3. Parahyangan Plaza
Tempat yang sekarang dikenal sebagai sentra distro Bandung ini dulunya merupakan sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan. Parahyangan Plaza berdiri sejak tahun 1982, sukses di awal keberadaanya dan menjadi tempat tujuan belanja yang favorit saat itu. Selain belanja, pengunjung di sini bisa wisata kuliner dan hiburan aneka permainan (rumah hantu, rumah kaca, dingdong, dll). Bila bulan Ramadhan dan Lebaran, Parahyangan Plaza biasa jadi tempat asyik buat ngabuburit kawula muda Bandung.

4. Romano Plaza
Mungkin bagi generasi sekarang mungkin agak bingung dengan gedung ini. Lokasinya beberapa puluh meter sebelah barat Gedung Kantor Besar Pos, Alun-Alun. Kini tempatnya sudah jadi minimarket. Ciri khas gedung ini di depannya ada lift hijau berbentuk kapsul.

Gedung ini bagi generasi 80-90an menyimpan kenangan tersendiri. Inilah lokasi favorit anak-anak muda Bandung menghabiskan waktu bermain di sini bila berkunjung ke alun-alun. Di sini, pengunjung bisa bermain sepatu roda di area NASA juga bermain aneka permainan lain seperti bombom car, ding dong, dan lainnya. Inilah pusatnya tempat gaul anak muda era 80an. Lokasinya pun dekat dengan sentra kuliner di Jln. Alkateri yang melintas di depan Romano Plaza.

5. Taman Vanda
Taman tempat selfie di dekat Gedung Bank Indonesia Jawa Barat ini dulu zaman kolonial pernaj ditempata sebuah gereja berukuran 8x21 meter  (Gereja Santa Franciscus Regis). Gereja Katolik ini dibangun pada 16 Juni 1895 dan dirobohkan pada awal tahun 1920-an. Lalu, di tempat ini berganti jadi Rex. Kemudian berganti nama menjadi Panti Budaya. Kemudian pernah jadi tempat kuliah mahasiswa Perguruan Tinggi Katolik Parahyangan (sekarang Unpar).

Setelah tidak jadi tempat kuliah, beralih fungsi kembali jadi bioskop. Selain menjadi bioskop, di gedung tersebut juga terdapat bangsal yang kerap digunakan untuk latihan badminton dan sempat digunakan untuk latihan tari Viatikara. Pada 1970-an bioskop Panti Budaya pun berganti nama menjadi bioskop Vanda dan bertahan hingga tahun 1980-an.

6. Palaguna Plaza
Palaguna Plaza yang kini sudah rata dengan tanah jadi tempat parkir sementara merupakan pusat perbelanjaan pertama dan tersohor pada dekade 1980-an di Kota Bandung. Bangunan di sebelah timur Taman Alun-Alun ini merupakan bangunan dengan fasilitas eskalator pertama di Bandung dan jadi tempat nonton favorit urang Bandung. Palaguna pun sempat digunakan sebagai lokasi syuting film Kabayan Saba Kota yang diperankan oleh Almarhun Didi Pete di akhir tahun 1980.

7. Bandung Indah Plaza (BIP)
Sebelum berdirinya BIP, di lahan tersebut terlebih dulu terdapat Hotel Pakunegara, milik pemerintah Provinsi Jawa Barat. BIP merupakan pusat perbelanjaan dan tempat  nongkrong paling ngehits di Bandung pada era 90-an. Pembangunannya rampung pada awal tahun 90-an dan resmi dibuka pada 19 Agustus 1990. BIP telah mengalami beberapa kali renovasi. Dulu, gedung ini sempat memiliki ruang terbuka di bagian tengahnya.

8. Jalan Depan Masjid Agung Bandung
Bagi generasi 80-90an mungkin pernah merasakan duduk di tangga penghubung Taman Alun-Alun dan Masjid Agung. Sementara di bawah tangga tersebut dulu ada jalan pendek (Jln. Pelabuhan Ratu) yang menghubungkan Jln. Dalem Kaum dan Jln. Asia Afrika. Kini jalan tersebut sudah ditutup imbas perluasan area Masjid Agung Bandung (sekarang Masjid Raya Bandung).

Dulu, jalan pendek ini biasanya macet karena terhalang lalu-lalang orang yang melintas dari arah taman ke masjid atau sebaliknya. Dan di area jalan yang jadi halaman masjid ini biasa penuh oleh pedagang kaki lima. Apalagi saat Jumatan, jamaah biasa sampai meluber dan salat di area jalan ini.

9. Pasar Elektronik Cikapundung
Pada 1980, beberapa sesepuh pedagang elektronik berinisiatif untuk memindahkan kios-kios dagangannya ke lokasi yang lebih representatif. Sebelumnya, mereka berjualan di bedeng-bedeng di area yang tahun 1980an digunakan sebagai Matahari Banceuy.

Pada tahun 1987, para pedagang yang tergabung dalam KOHIPPCI (Koperasi Himpunan Pedagang Pasar Cikapundung) menempati pasar bertingkat ini. Pasar ini pun jadi tujuan para pembeli barang elektronik dan namanya pun tersohor hingga ke daerah lain. Namun karena semakin lesunya bisnis barang elektronik, kini tempat ini dikenal sebagai Pasar Barang Antik Cikapundung.

10. Toserba Yogya
Yogya berawal dari sebuah toko batik di Jln. Ahmad Yani, Kosambi, Kota Bandung, dengan luas toko sekitar 100 m2 dan karyawan berjumlah 8 orang. Toko batik yang diberi nama Djokdja ini didirikan dan dikelola secara sederhana. Pada tahun 1972, yang tadinya hanya toko batik berubah menjadi toko kelontong. Nama Djokdja, tetapi penulisannya diganti menjadi “Yogya"

Pada28 Oktober 1982, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, dibuka cabang yang pertama, yang berada di Jlm. Sunda 60, dengan luas toko 200 m2 dengan 40 orang karyawan. Selanjutnya tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai hari lahir Toserba Yogya.





share to whatsapp