Review

Buku "Ramadhan di Priangan": Nostalgia Kisah Tradisi Bulan Puasa di Kota Bandung





Adapun mereka yang ngabuburit ke Jubileum Park yang terletak di utara Kebun Binatang, menjelang sore berjalan menyusuri kali Cikapayang yang mengalir dari pintu air di utara Pasar Balubur sampai Pieters Park (kini Taman Merdeka). Mereka menyusuri Cikapayang sambil ngurek belut.... (Hlm. 55-56)
 
Membaca buku karya Kuncen Bandung, Haryoto Kunto, ini seakan menarik imajinasi kita pada zaman aki dan nini kita. Sebuah buku yang mampu menggambarkan suasana bulan Ramadhan di Bandung tempo dulu. Asyik juga menikmati tulisan plus foto-foto jadul yang menghiasi buku ini. Kita jadi bisa mengenal Bandung di masa dulu yang penuh pernak-pernik, dari kehidupan masyarakat sampai tata kota.

Buku yang diterbitkan PT Granesia (percetakan H.U. Pikiran Rakyat) ini berisikan cerita memory masa lalu di Parijs van Java. Misalnya, informasi mengapa bisa ada dan disebut Pasar Baru. Begitu juga gaya ngabuburit urang Bandung zaman baheula. Mmh... bayangkan bagaimana bunyi bedug dari Masjid Agung (sekarang Masjid Raya Jawa Barat) bisa terdengar sampai ke daerah Kaca-Kaca Wetan, Ancol, Andir, hingga lapangan Tegallega bahkan sayup-sayup bergema sampai daerah Balubur (Dago). 

Begitu pula dengan kebiasaan ngabuburit warga Bandung yang haus hiburan. Masyarakat Bandung baheula sudah biasa nonton film sembari nunggu waktu buka di bioskop semisal Luxor atau Oriental. Bahkan bagaimana penuhnya halaman Masjid Agung saat ada pembayaran zakat... penuh oleh munding alias kerbau.

Masih banyak lagi cerita-cerita seru tentang bulan puasa di Bandung tempo doeloe. Penasaran? Mangga, ngagaleuh nyalira... alias beli sendiri ke toko buku, dan nikmati sendiri isi tulisannya :)