Review

Sejarah Observatorium Bosscha, Lembang




Sejarah Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Hari itu, 10 Januari 1928 kapal “Kertosono” milik Rotterdamsche Llyod, berlabuh di pelabuhan Batavia. Membawa dua puluh tujuh peti kemas besar, berisi Refraktor dobel Zeiss dengan diameter 60 Cm dan panjang 11 meter. Kedatangan kapal kertosono, mengakhiri masa penantian panjang, sejak dibangunanya kompleks observatorium di lembang tahun 1922 dan diresmikan pada 1 Januari 1923 oleh Gubernur Jenderal Mr.D.Fock.

Dua puluh tujuh peti kemas ber bobot 30 ton, diangkut perusahaan kereta api negara (S.S.) secara gratis ke Bandung. Selanjutnya dibawa menuju Lembang oleh Batlyon Genie A.D. Tentara Hindia Belanda. Sementara Biro Bangunan Perusahaan Jawatan Kereta Api (S.S.) mendapat tugas membuat bangunan beton ber kubah dengan segala pemasangan istrumennya yang canggih, termasuk bantalan rel untuk memutar kubahnya. (Hidayat.B, 1982)


***

Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Kode observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk observatorium Bosscha adalah 299.

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Setelah 80 tahun lebih usianya, kondisi kompleks peneropongan Bosscha relatif tidak berubah, seperti awal diresmikan. Bangunan kantor dan perpustakaan lengkap dengan kamar mandi, kamar gelap fotografi juga kamar pencatatan objek di sebelah selatan nyaris tak ada yang berubah. Begitupun rumah dinas Kepala Bosscha di sampingnya, terlihat asli diteduhi kerindangan pohon dan tanaman tumbuh di halaman yang luas.

Di belakang kantor dan rumah dinas ke barat, terdapat bangunan rumah tempat bermalam para pengamat. Juga deretan rumah-rumah petak tempat pegawai observatorium tinggal bersama keluarganya. Yang terlihat baru adalah deretan rumah-rumah, dibangun penduduk di atas tanah milik observatorium sejak era reformasi tahun 1998 lalu. Di depan kantor terpisah jalan, tiga buah bangunan bersambung digunakan sebagai bengkel perbaikan, souvenir shop dan balai pertemuan berkafasitas 40 orang, sekaligus tempat presentasi dan menyimpan berbagai miniatur teropong. Juga patung dada K.A.R. Bosscha, pemberian Ratu Belanda, Wihelmina. Sebelumnya berada di atas tugu peresmian yang berada di luar, depan pos jaga observatorium.

Terdapat lima buah teleskop besar di observatorium ini, yaitu:

1. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Teleskop ini biasa digunakan untuk mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, mengamati planet, mengamati oposisi planet Mars, Saturnus, Jupiter, dan untuk mengamati citra detail komet terang serta benda langit lainnya. Teleskop ini mempunyai 2 lensa objektif dengan diameter masing-masing lensa 60 cm, dengan titik api atau fokusnya adalah 10,7 meter. Refraktor dobel zeis, didatangkan 'Ru' Bosscha langsung dari Carl Zeiss Jena lengkap dengan Meridian circle dari Askania Werk Jerman tahun 1921.

2. Teleskop Schmidt Bima Sakti
Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. Diameter lensa koreksi biconcaf-biconfex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film.

3. Teleskop Refraktor Bamberg
Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api atau fokus 7 meter.

Pada 7 Juni 1928 Teleskop besar teleskop Banberg 37 cm, diserahkan 'Ru' Bosscha kepada Himpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda. Disaksikan langsung oleh Gubernur Jendaral .Nr. A.C.D. de Graeff. Bersamaan dengan itu, diserahkan pula bantuan subsidi dari Departemen Angkatan Laut pemerintah Belanda guna membantu kelancaran pengoperasian observatorium sebesar Nf 18.000, jumlah yang sangat besar saat itu.

4. Teleskop Cassegrain GOTO
Dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer

5. Teleskop Refraktor Unitron

Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan Diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cm.

Profil gedung-gedung bersejarah lainnya LIHAT DI SINI.