Review

Makam Marhaen Riwayatmu Kini





Di sini tempat peristirahatan Bapak Marhaen wafat tahun 1943. Sumber karya mulya yang utama PYM Ir. Soekarno merupakan jembatan emas menuju pintu gerbang kemerdekaan bangsanya. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Itulah tulisan yang tertulis pada prasasti di makam Marhaen di Kampung Cipagalo, RT 04/03, Kelurahan Mengger, Bandung Kidul, Kota Bandung.

Marhaen sebagai Inspirasi Soekarno

Sosok Mang Aen alias Marhaen adalah seorang petani kecil yang menginspirasi presiden pertama RI, Soekarno. Soekarno mendengungkan nama Marhaen dalam pidato pembelaan Indonesia Menggugat, Agustus 1930.  Kala itu, Sang Putra Fajar mengecam penjajahan kolonial karena membuat para pemilik tanah yang menggarap lahannya sendiri dan peralatan pribadi tetap hidup miskin.

Perjumpaan Bung Karno yang kala itu sedang menuntut ilmu di Sekolah Teknik Tinggi Bandung (sekarang ITB), berjalan-jalan ke daerah Bandung selatan. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen atau biasa dipanggil Mang Aen. Dalam dialognya yang berbahasa Sunda itu kurang lebih artinya seperti ini:
"Pa, ieu sawah nu saha?"
(Bapak, ini sawah milik siapa?)
"Nu abdi, anugerah ti Gusti."
 (Milik saya, anugerah Tuhan.)
"Pacul ieu milik saha?"
(Cangkul ini milik siapa?)
"Abdi." 
(Saya.)
"Pami pakakas ieu sadayana kagungan saha?"
(Kalau peralatan-peralatan itu semua milik siapa?)
"Nu abdi." 
 (Punya saya.)
"Sawah ieu digaleuh ku Bapa?"
(Sawah ini Bapa beli?)
"Henteu, ieu mah warisan turun-temurun, anugerah ti Gusti." 
 (Tidak, tapi warisan turun-temurun, sebagai anugerah Tuhan.)
"Digarap ku saha?"
(Digarap oleh siapa?)
"Ku abdi."
(Oleh saya)
"Hasilna kanggo saha?" 
(Hasilnya untuk siapa?)
"Kanggo abdi sakulawargi." 
(Dinikmati oleh saya sekeluarga.)
"Naha ieu tiasa nyekapan kanggo kabutuhan Bapa?" 
 (Apakah itu cukup untuk kebutuhan kamu?)
"Hasilna mah pas-lasan kanggo nyekapan hirup abdi sakulawargi." 
 (Hasilnya pas-pasan untuk mencukupi hidup kami.)
"Naha Bapa damel oge ngagarap lahan nu sanesna?" 
 (Apakah kamu juga bekerja menggarap tanah orang?)
"Henteu. Abdi kedah damel sakuat tanagi. Sagala tanagi abdi kanggo lahan abdi nyalira."
(Tidak. Saya harus bekerja keras. Semua tenaga saya untuk lahan saya sendiri.)
"Tapi Pa, salira hirup dina kamiskinan?"
(Tapi Bapa, hidupmu dalam kemiskinan?)
"Muhun, abdi hirup dina kamiskinan." 
 (Benar, saya hidup dalam kemiskinan.)

Percakapan inilah yang menjadi dasar inspirasi Bung Karno dalam menciptakan karya utamanya, Marhaenisme. Marhaen dalam pikiran Bung Karno adalah pemilik jiwa nasionalisme dan demokrasi, manusia merdeka dan mandiri. Tidak menggantungkan kepada siapa pun dalam mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya.

Kondisi Makam Marhaen

Bangunan makam Marhaen berukuran sekitar 3x4 meter persegi tersembunyi di daerah pinggir permukiman masyarakat Bangunan permanen itu diwarnai cat krem, berlantai keramik putih. Tampak seperti bangunan baru di antara bangunan di sekitarnya. Ada dua makam di dalamnya, milik Marhaen, satu lagi milik istrinya, Arsama. Dua makam bercat merah kecoklatan itu sejajar. Bangunan makam yang baik itu berkat bantuan seseorang.

Di sini, ada sebuah tugu batu di atas kepala dua makam itu. Pada tugu batu itu tertulis, Marhaen wafat pada 1943. Para tugu yang sama tertera nama Soekarno, 'Bung Karno penyambung lidah rakyat'. Semuanya dalam huruf kapital.  Selain itu, ada enam makam kecil di depan bangunan makam Marhaen, nampak tidak terlalu terurus karena tertutup daun-daun kering. Di sisi kanan bangunan makan Marhaen merupakan lahan kosong yang penuh tumpukan batu bekas bangunan. Ada enam makam juga di sana dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Rumput tumbuh subur di empat makam. Dua kubur lain dikelilingi pagar bambu dan tanaman merambat.