Review

Secuil Kisah Rumah Makan Madrawi dan Konferensi Asia Afrika 1955




Jika kita sekarang melihat perkembangan kuliner Bandung yang terus berkembang dan menjadi buruan para pemburu makanan, hal ini berlangsung dari zaman dulu. Kuliner Bandung bahkan telah dikenal dari zaman kolonial Belanda. Peninggalan restoran elit pada zaman itu masih bisa kita lihat salah satunya di daerah Jalan Braga.

Bandung menjadi sentra kuliner yang para penjualnya pun bukan hanya dari Bandung sendiri. Salah satunya tahun 1950-an ada rumah makan yang menjadi ikon Kota Bandung. Rumah makan tersebut menjual sate madura yang dikenal dengan dengan Rumah Makan Madrawi.

Rumah Makan Madrawi dan KAA
Rumah makan Madrawi adalah bisnis kuliner yang dikelola oleh Fadlie Badjurie sekeluarga. Rumah Makan Badrawi kerap menjadi langganan Soekarno semasa menimba ilmu di Bandung hingga dirinya menjadi Presiden.  Presiden pertama RI itu memiliki kesukaan sepiring nasi dengan sate ayam, gulai kambing, es teh manis, dan pisang ambon. Rumah makan ini pula yang kerap menjadi langganan orang-orang Belanda di masa itu. Bahkan pada perhelatan KAA, Rumah Makan Badrawi dipesan khusus oleh Soekarno untuk menjadi pemasok sate dan gule ke Gedung Pakuan. Keberhasilan rumah makan inilah mungkin yang menjadi pemicu eksodusnya etnis Madura lain untuk membuka usaha warung sate di Kota Bandung hingga saat ini.

Saat KAA dihelat di Bandung, banyak delegasi yang makan di RM Madrawi. Suatu hari, sempat terjadi kejadian unik saat Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru datang ke RM Madrawi. Saat itu, ia bersama beberapa orang lainnya memesan sate kambing dan nasi rames. Sebelum pesanan datang, para pelayan seperti biasa meletakkan kobokan untuk mencuci tangan. Tanpa disangka, kobokan cuci tangan tersebut diminum oleh Nehru.


Kejadian unik lainnya adalah saat Madrawi didatangi delegasi negara lain. Begitu sate datang, mereka tidak langsung menyantapnya. Mereka memegang tusuk sate, mengacungkannya, dan memperhatikan dengan detail. Setelah itu, mereka saling melempar senyum.

Tinggal Kenangan
Usaha rumah makan ini dibangun Fadli sekeluarga sejak tahun 1940, bersama dengan kakaknya bernama Munira. Rumah Makan Madrawi merupakan rumah makan pertama di Kota Bandung yang menjual sate dan gule khas Madura. Adapun lokasi rumah makan ini tepat berada di jantung kota yakni di Jalan Dalem Kaum, Fadli bersama seluruh keluarganya menjadi saksi kesibukan panitia KAA untuk menyajikan hidangan terbaik untuk para tamu delegasi dari berbagai negara.

Sayang sekali saat ini Rumah Makan Madrawi sudah tidak ada alias sudah tinggal sejarah. RM Madrawi yang berjaya pada tahun 1955 tidak beroperasi lagi sejak tahun 1987. Sekarang tempat yang pernah menjadi tempat makan langganan Soekarno itu telah beralih fungsi menjadi Kantor Satpol PP Bandung. Rumah Makan Madrawi kini hanya dapat dilihat melalui foto saja. Foto Rumah Makan ini salah satunya pernah dipamerkan pada event ‘Pameran Foto Keluarga’ yang digelar di Museum Braga Jalan Braga No.30 dari tanggal 3 sampai 14 September 2014.