Review

Kisah di Balik Kesuksesan Toko Seragam Sekolah Resko




Restu Kolot, itulah singkatan nama Resko. Nama ini diambil sang empunya usaha sebagai bentuk penghargaan atas restu orangtuanya saat ia memilih hijrah dari Sumedang ke Bandung untuk bekerja. Jika Anda para orang tua yang biasa membelikan seragam sekolah buat anak, nama Resko mungkin sudah teu bireuk deui (tidak asing lagi). Pada masa tahun ajaran baru, toko seragam Resko selalu dipadati pembeli. Mereka biasanya para orang tua yang akan membelikan baju seragam, celana seragam, seragam Pramuka, kaus kaki, tas, dasi anak sekolah, dan atribut sekolah lainnya. Biasanya, saat Mei  - Juli barang dagangan seraman sekolah di sini bisa terjual ratusan ribu potong dari berbagai ukuran.

Resko merupakan toko seragam pertama di Bandung. Resko didirikan pada 1970-an. Sejak itu, Resko tetap setia menawarkan seragam sekolah dan Pramuka mulai tingkat SD, SMP sampai SMA. Toko utama Resko terletak di Jalan Ujung Berung No. 68, Bandung. Untuk perlengkapan sekolah diperoleh dari pemasok. Adapun yang buatan sendiri Resko hanya seragam sekolah dan Pramuka. Seragam itu dibuat di rumah konfeksi Resko. Jumlah karyawan bagian konveksi ini berjumlah sekitar 20 orang. Kelebihan dalam hal kualitas dan awetnya bahan yang dipakai menjadi ciri khas Resko. Inilah yang menjadikan Resko sebagai toko favorit urang Bandung dan sekitarnya untuk belanja kebutuhan seragam sekolah di sini.

Toko Resko bisa juga ditemui di Pasar Kosambi (2 gerai), Ujungberung Pasar Ancol, Cimahi, Cileunyi, Dangdeur (Rancaekek), Dayeuhkolot, dan Tanjungsari. Resko H.M. Hasyim. Ketika itu, H.M. Hasyim yang asli Sumedang  ini mencoba peruntungan di Kota Bandung dengan cara bekerja di usaha konfeksi milik orang lain di Pasar Karapitan, Kota Bandung. Kemudian setelag bekerja di Pasar Karapitan, ia mencoba membuka usaha konfeksi sendiri. Berbekal mesin jahit dan uang hasil bekerja, Hasyim muda mengawali usahanya. Ketika itu bukan seragam sekolah yang dibuat.

Pendiri Resko H M Hasyim (kanan) bersama anak keenam Lilis Tini Suhartini.
H.M. Hasyim hanya membuat pakaian biasa, yang kemudian dijual di lapak-lapak kaki lima di Kota Bandung. Jerih payah usahanya dengan menawarkan dagangannya secara berkeliling akhirnya berbuah manis dengan membeli jongko di Pasar Kosambi (sekitar 1972). Bisnisnya kemudian berkembang dengan memiliki sepuluh toko seragam yang dinamai Resko. Menangkap peluang usaha adalah kuncinya, maklum usaha konfeksi dan jualan seragam sekolah ketika itu belum banyak. Jatuh bangun pernah H.M. Hasyim rasakan. Pada zaman Orba, ia mengalami kondisi merugi akibat ada perubahan kebijakan pemerintah Orde Baru yang mengarahkan pasokan kebutuhan seragam sekolah oleh "lingkaran dalam" alias monopoli pihak tertentu. Seragam sekolah buatannya tidak laku berkarung-karung, sampai akhirnya disumbangkan ke korban (letusan) Gunung Galunggung.

Dua tahun setelah mengalami kerugian itu, bisnisnya kembali bangkit. Seragam sekolah buatannya yang dilabeli Resko laku keras. Bahkan pelanggannya tersebar di mana-mana. Hingga ia pun merasa klop dengan bisnis seragam sekolah dengan merek Resko ini. Dia enggan berpindah ke bisnis konfeksi lain. Logiknya, anak sekolah akan tetap ada sepanjang zaman dan seragamnya tidak pernah berubah. Mungkin kebijakan kembali yang akan menjadi batu sandungan usahanya, misalnya jika anak sekolah nantinya diberi kebebasan untuk tidak memakai seragam alias bisa memakai baju bebas.

Pengelolaan Resko dengan sistem manajemen keluarga turun-temurun ini telah mampu menghidupi keluarga H.M. Hasyim hingga ke anak-cicit. Malah, kini usahanya semakin berkembang dengan membuat divisi usaha lain, seperti gedung olahraga (GOR) yang biasa disewakan juga untuk acara resepsi nikahan. Juga menyewakan lapangan futsal. Malah, sebuah perumahan kini berdiri yang dijadikan alamat kantor pusat Resko, yaitu Jalan Resko, Ujungberung, Bandung.