Review

Gedung Palaguna Nusantara Riwayatmu Kini





Pada era 80-90'an, Anda warga Bandung yang mengalami masa kejayaan kawasan Alun-Alun Bandung sebagai pusat belanja dan wisata, mungkin pernah merasakan kenangan di Gedung Palaguna. Gedung yang berada di sebelah timur Alun-Alun Bandung ini dulu menjadi salah satu tujuan refreshing urang Bandung. Di gedung ini, lengkap semua tersedia dari tempat belanja, menonton film bioskop, kuliner, hingga terkenal tempat penjualan aksesoris batu akik. 

Kini, bangunan ini subah dirubuhkan. Rencananya, bekas gedung pusat perbelanjaan modern yang tersohor tahun 80-an itu akan dibangun tempat belanja. Perusahaan Daerah Jasa dan Kepariwisataan rencananya akan membangun hotel, mal, dan bioskop di bekas bangunan mal pertama di Kota Bandung tersebut. Pada tahun 2010 pernah ada wacana akan dilakukan perubahan fungsi menjadi ruang terbuka hijau dengan perpustakaan bertaraf internasional. Ini yang sempat jadi polemik di masyarakat dan juga para pangagung (pemerintah) Pemprov Jabar.

Secuil Kenangan Gedung Palaguna
Pada masa kejayaannya, Palaguna merupakan sentra tujuan wisata belanja. Maklum saja, di tempat ini termasuk serba lengkap. Merunut sejarahnya, bangunan di sebelah timur Alun-Alun Bandung ini semula merupakan gedung bioskop Varia, Elita dan Oriental. Bioskop tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda. Pada era 1980-an akhirnya berubah menjadi Palaguna Plaza.

Nama "Palaguna" sendiri konon berasal dari usulan Wahyu Wibisana, penyair dan budayawan Sunda. Asalnya nama yang diusulkan adalah "Paraguna" yang artinya 'ahli kawih' juga mengandung arti 'sarwaguna' atau 'serbaguna'. Hanya, saat akan peresmian, karena Gubernur yang akan meresmikan lidahnya cadel, maka menjadi "Palaguna".

Tempat  ini merupakan pusat perbelanjaan modern pertama yang  mulai beroperasi  pertengahan tahun 1980-an. Gedung ini terdiri dari empat lantai, dilengkapi dengan eskalator pertama di kota Bandung, lantai 1 diisi pedagang kain, pakaian, sepatu, tas, lukisan dan batu akik.

Sedangkan lantai 2 beroperasi Matahari Departement Store. Di lantai 3 ada bioskop Nusantara dan Palaguna, Hero Super Market dan restoran cepat saji CFC. Pada lantai paling atas tempat bermain sepatu roda kemudian berubah jadi Timezone. Di basement terdapat tempat parkir, mushola, dan terdapat sumur Bandung sebagai situs sejarah berdirinya kota Bandung. Persis di pinggirnya, terdapat aliran Sungai Cikapundung. Pada saat itu Palaguna Plaza menjadi tujuan warga Bandung dan sekitarnya untuk belanja, menonton film  bioskop, makan, atau sekedar jalan-jalan. Tempat ini juga sempat dipakai syuting film Kabayan Saba Kota.

Di tempat ini, pada Bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri sudah pasti dipenuhi oleh pengunjung. Mereka berbelanja di Matahari Dept. Store. Bahkan pada masa jayanya, para pengunjung banyak yang mengantre, baik itu di kasir tempat belanja. Belum lagi di restoran cepat saji dan bioskop. Bioskop Nusantara terbilang terjangkau untuk pengunjung saat itu.

Para pengunjung sambil menunggu panggilan masuk ke dalam bioskop bisa cuci mata dengan duduk di tempat duduk melingkar. Di belakang tempat duduk ada hiasan berupa cermin. Tak sedikit juga pengunjung yang duduk lesehan di lantai depan tempat penjualan karcis. Yang berkunjung ke bioskop biasanya selalu penuh dari siang hingga tengah malam. 

Mungkin bagi Anda yang pada tahun 80-an masih anak-anak, pernah merasakan bermain game dingdong yang tepat berada bagian di depan bawah gedung ini. Suara mesin dingdong seakan memakakkan telinga. Para anak-anak recet bermain dingdong sambil tak sedikit yang penuh nafsu memencet-mencet tombol permainan dengan kencang. Di sini juga ada tempat penukaran koin untuk bermain dingdong. Persis di sebelah tempat bermain dingdong ini ada warung makan padang yang terkenal murah dan kelezatan makanannya.

Pudarnya Kejayaan Palaguna
Seiring dengan perkembangan Kota Bandung, satu-satu gedung di kawasan Alun-Alun meredup. Bukan hanya Palaguna. Gedung Romano Plaza, Parahyangan, hingga Kings mengalami pudarnya masa keemasan. Satu per satu berdiri mall lain di berbagai titik di Kota Bandung. Jika dulu, Alun-Alun satu-satunya ikon tempat belanja dan wisata, lambat laun kawasan ini meredup. Lantai dasar Palaguna yang dikenal tempat jualan batu akik dan aksesoris sempat berjaya sebagai tempat penjual handphone dan SIM card sampai awal tahun 2000-an. Namun kemudian para pedagang satu per satu gulung tikar atau pindah ke tempat lain. 

Begitu pun dengan penjual pakaian, tahun 2007 Matahari Dept. Store tutup dari Palaguna Plaza. Tempat ini semakin sepi dari pengunjung. Puncaknya, bioskop Nusantara dan Palaguna Theater tutup seiring dengan hadirnya bioskop-bioskop konsep baru di Kota Bandung. Namun, ada juga sebagian pedagang yang masih bertahan hanya di lantai dasar yang diisi pedagang pakaian dan batu akik hingga bulan Juni 2014. Di depan Palaguna juga dikenal dengan pedagang koran, majalah, uang kuno, dan aksesoris. Namun, kemudian mereka pun satu per satu pindah ke tempat lain. 


Kini, torehan kenangan kita akan masa kejayaan Alun-Alun Bandung itu terkubur seiring dengan runtuhnya bangunan Palaguna rata dengan tanah. Bangunan itu akan berubah fungsi dan menjelma menjadi bangunan kawasan komersial terpadu. Dan Palaguna pun hanyalah pernah menjadi saksi bisu bagi mereka yang pernah merasakan suasana keramaian Alun-Alun Bandung era Orba ini.