Review

Colenak Murdi: Suguhan Para Tamu di Konferensi Asia Afrika 1955




Foto koleksi wisatabdg.com
Urang tuang colénak
raos seger matak séhat kana awak
pangaosna cukup ku sapuluh pérak

moal rugi ngaluarkeun eusi pésak
....

Itulah penggalan kawih degung berjudul "Colenak" ciptaan seniman Alm. Nano S. Kawih itu adalah bentuk kekaguman akan cita rasa colenak. Rasa colenak kareueut (manis) membuat siapa pun yang mencicipinya akan deudeuieun (ketagihan).  Makanan colenak menjadi kameumeut (banyak disukai) oleh masyarakat Sunda.

Colenak atau dikenal juga dengan tapai bakar adalah nama yang diberikan pada kudapan yang dibuat dari peuyeum (tapai singkong) yang dibakar yang disantap dengan dicocolkan pada gula jawa cair yang dicampur dengan serutan kelapa.

Colenak Suguhan KAA 1955
 Diplomasi saat Konferensi Asia Afrika 1955 bukan hanya menyangkut hubungan pemimpin antarnegara. Namun, kala itu Bandung pun menyuguhkan "diplomasi" ala kuliner. Makanan khas Kota Bandung turut memberi warna pada perjalanan sejarah pertemuan para pemimpin Asia-Afrika tersebut. Segala potensi di Kota Bandung waktu itu diberdayakan, dari penggunaan gedung-gedung yang ada; peminjaman mobil kepada masyarakat dengan saridona;  hingga memanfaatkan potensi usaha kuliner yang dikelola masyarakat. Kuliner yang menjadi suguhan waktu itu salah satunya colenak.

Adalah "Colenak Murdi" kuliner yang dipilih oleh pihak penyelenggara sebagai suguhan kepada para tamu agung. Saat itu, penyelenggara KAA datang ke tempat jualan Murdi. Ia diundang penyelenggara ke Hotel Homann. Murdi kaget campur bangga karena colenak jadi sajian untuk pimpinan negara saat gelaran akbar internasional tersebut. Ia membuat colenak dikerjakan bersama istri dan anak-anaknya. Hidangan colenak buatan Murdi menghiasi meja makan saat malam resepsi rangkaian KAA di Gedung Pakuan (8 April 1955). Makanan khas Sunda dari bahan peuyeum (tapai) itu pun turut pula disuguhkan waktu acara perpisahan KAA di Hotel Savoy Homann (24 April 1955).


Colenak kependekan dari dicocol enak, konon penamaan makanan tersebut bukan berasal dari Murdi namun dari para pelanggan setia Murdi yang kerap datang ke warungnya, di Jalan Ahmad Yani (Cicadas) no. 733. Sejak itu, makanan berbahan dasar tapai, gula jawa, dan parutan kelapa itu pun melegenda hingga sekarang. Sementara Murdi sendiri telah membuka usaha makanan peuyeum tersebut pada 1930 hingga sang pembuat awal colenak tersebut wafat pada 1966 (usia 72 tahun). Usaha colenak ini pun kemudian diteruskan generasi kedua dan ketiga hingga sekarang. Usaha Murdi dilanjutkan oleh anaknya bernama Hj. Sopiah beserta cucu-cucu Murdi. 

Kini, colenak Murdi berganti nama menjadi "Colenak Murdi Putra". Jika pada masa Murdi hanya ada satu rasa, yakni original, maka di tangan anaknya, Colenak Murdi Putra memiliki tiga rasa: original, nangka, dan durian.

Colenak Murdi Putra
Jln. Jendral Ahmad Yani No.733 (Cicadas)
Bandung – 40125
Tlp. 022 – 7275037
Fax. 022 – 7106014

Jam Operasional
Buka setiap hari (pukul 07.00 - 18.00 WIB)

Peta lokasi Colenak Murdi Putra: Lihat di sini