Review

Museum Bio Farma, Destinasi Wisata Edukasi Medis di Kota Bandung



Museum Bio Farma Bandung

Satu lagi destinasi wisata edukasi hadir di Bandung. Adalah Museum Heritage Bio Farma yang berlokasi di Jln. Dr. Djundjunan (Pasteur) No. 28. Bila Anda yang keluar dari tol Pasteur melalui fly over Pasupati, di bawah seberang jembatan ada gedung dengan tulisan Bio Farma, dimana lokasinya bersebelahan dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Bangunan heritage Bio Farma merupakan bangunan tua yang didirikan pada tahun 1926, dirancang oleh arsitek Prof. Dr. Ir. CPW Schoemaker. Gedung tengah Bio Farma (Landskoepok Inricting en Instituut Pasteur) ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung melalui Peraturan Daerah Kota Bandung No. 19 tahun 2009. Luas bangunan mencapai 2.659 meter persegi, terdiri dari dua lantai. Lantai satu memiliki luas 2.030 meter persegi ,dan lantai dua seluas 629 meter persegi.

Re-opening Museum Bio Farma
Museum Bio Farma akan re-opening pada bulan Agustus 2018.  Museum ini sebenarnya sudah dibuka pada 2015 namun mengalami renovasi di sana sini untuk lebih meningkatkan kenyamanan pengunjung dan penambahan fasilitas. Renovasi gedung pernah dilakukan pada Maret 2015 dengan tidak mengubah kondisi asli dari bentuk, tampak, dan detail-detail bangunan.

Gedung yang sudah berusia hampir 100 tahun ini memiliki ciri khas atap dengan sudut curam. Pilar bangunan pun masih kokoh, begitu pun dengan daun jendela yang terbuat dari kayu jati. Cat berwarna putih yang menjadi ciri khas warna bangunan buatan Belanda tetap dipertahankan.

Renovasi pun dilakukan seiring dengan perubahan Bio Farma yang melakukan transformasi dari vaksin ke life science. Untuk bisa mengenal sejarah Bio Farma ini, Anda bisa datang setiap hari Rabu dan Kamis pukul 09.00 hingga 11.30 WIB. Jangan lupa untuk melakukan reservasi sebelum berkunjung ke museum ini.

Museum Biofarma menempati area seluas 9 hektare. Apa yang bisa didapat pengunjung saat berkunjung ke museum ini? Dengan datang ke museum Bio Farma, akan menjadi wisata sejarah yang menyenangkan. Karena bisa mengetahui sejarah vaksin di Indonesia termasuk bangunan heritage-nya. Pihak Museum Bio Farma telah bekerjasama dengan Disbudpar Kota Bandung untuk memasukkan museum ini ke 10 tujuan pariwisata tersebut dalam kategori health tourism.

Wisata medis di Museum Bio Farma dibuat dengan konsep fun, yakni menggabungkan konsep wisata dengan edukasi vaksin hingga lifescience. Ke depannya pengunjung juga akan mendapatkan vaksin Flubio yang diberikan dengan harga paket kompetitif. Nantinya, pengunjung pun bisa menjajal pengalaman digital health tourism dengan dukungan VR dan informasi vaksin kekinian.

Museum Bio Farma sendiri akan re-opening pada Agustus 2018 untuk melengkapi konten health tourism yang sudah ada. Sejak lama,  perusahaan bioteknologi ini memproduksi vaksin dan antisera. Di era modern, Bio Farma bertransformasi ke arah life science dan produsen biosimilar atau inovasi pengobatan terapetik.

Museum Bio Farma ini menerapkan konsep ‘Interactive Museum’ dimana para pengunjung akan diberikan pengalaman baru saat mengunjungi museum. Salah satunya seperti adanya pop up card dimana para pengunjung harus membuka kartu yang berisi foto satu persatu demi mengetahui perkembangan pada saat masa sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin.

Saat ini,  kawasan lab pengembangan berstatus akses terbatas sehingga pengunjung hanya bisa menikmatinya melalui VR. Namun, para pengunjung tetap akan mendapatkan informasi bagaimana cara memproduksi vaksin.

Profil Bio Farma
Perjalanan panjang Bio Farma hingga kini telah bertransformasi menjadi produsen vaksin dan antisera kelas dunia. Bermula ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan “Parc-vaccinogène” (Lembaga Pengembangan Vaksin Negara) pada tanggal 6 Agustus 1890.

Pada 1895-1901, Bio Farma mengalami pergantian nama menjadi “Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur.” 6 Agustus 1890 Bio Farma berdiri dengan nama “Parc Vaccinogene” pada tanggal 6 Agustus 1890 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia, yang saat ini telah berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto), Jakarta.

1902 - 1941, Bio Farma kembali mengalami perubahan nama menjadi “Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur.” Pada tahun 1923, Bio Farma mulai menempati lokasi di Jalan Pasteur No. 28 Bandung yang dipimpin oleh L. Otten.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1997, nama Perusahaan kembali berubah dari Perum Bio Farma menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) atau lebih dikenal dengan nama PT Bio Farma (Persero) sampai dengan saat ini.





share to whatsapp