Review

Wisata Tematik: Jelajah Wisata Pendidikan di Bandung




Tempat wisata pendidikan di Bandung

Bandung memang punya ragam julukan, dari "Kota Kembang", "Kota Pendidikan", "Kota Wisata", "Kota Kuliner", "Kota Fashion", "Kota Musik" dan julukan-julukan lainnya. Kali ini kita akan membahas tema jelajah wisata pendidikan di Bandung. Potensi wisata pendidikan di Bandung sebenarnya bisa dieksplorasi lebih mengasyikkan.

Wisata pendidikan di Bandung tak melulu hal-hal yang harus dibawa serius. Minimal wisatawan bisa lebih jauh mengenal aspek kesejarahan hadirnya perguruan tinggi, sekolah, museum, atau kegiatan-kegiatan di Bandung. Lebih jauhnya, bisa belajar banyak mengenai perkembangan dunia pendidikan di Bandung dari dulu sampai sekarang.

Berikut ini hal yang bisa wisatawan eksplor seputar jelajah wisata pendidikan di Bandung.

1. Pendidikan di Bandung telah berkembang sejak dulu
Nama ITB, menjadi tanda bahwa pendidikan di Bandung telah dikenal sejak zaman kolonial. Nama Soekarno dan Habibie identik dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Kawasan kampus di Jln. Ganesha ini memang telah banyak mencetak tokoh-tokoh nasional terutama dalam bidang teknologi. Dulunya, ITB bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng (sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, atau THS) berdiri tanggal 3 Juli 1920 sebagai sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda.

Tak jauh dari ITB di sebelah selatan dekat Taman Lalu Lintas ada SMAN 3 dan SMAN 5. Bangunannya dirancang oleh arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang berfungsi sebagai gedung Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS) yaitu sekolah menengah untuk bangsa Belanda dan kalangan ningrat Indonesia (sekolah setaraf gabungan SMP (MULO) dan SMA (AMS) dengan masa studi 5 tahun).

Juga tak jauh dari sini ada gedung SMPN 2 Bandung (Jalan Sumatera no. 42) yang menempati bangunan bekas sekolah Belanda, yaitu Europeesche Lagere School (sekolah rendah diperuntukkan bagi warga Eropa - setingkat Sekolah Dasar pada masa kini) yang dibangun pada tahun 1913 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang. Posisinya kira-kira 400 meter di sebelah selatan Balai Kota Bandung

Lalu ada Gedung Polrestabes Bandung di Jalan Merdeka (seberang Taman Vanda). Bangunan Polrestabes Bandung ini didirikan pada tahun 1866 dulunya berfungsi sebagai Sekolah Guru (Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijzers) yang didirikan atas inisiatif seorang Belanda bernama K.F. Hole.

Lalu, di sebelah timur Lapangan Tegallega terdapat sebuah sekolah pangreh praja tingkat menengah, yaitu Middelbare Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) yang didirikan tahun 1910. Gedungnya yang bergaya neo-klasik masih berdiri dan terawat cukup baik hingga sekarang (digunakan sebagai Gedung Hubdam III Siliwangi).

Di sebelah selatan Tegallega, berdiri sekolah Hoofdenschool yang pada tahun 1900 berubah menjadi Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pangreh praja tingkat dasar.

2. Pergerakan pendidikan
Nama Dewi Sartika dikenal sebagai pahlawan nasional. Pada 16 Januari 1904, ia membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910.

Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

3. Perusahaan enerbitan dan pameran buku di Bandung
Di Bandung banyak penerbitan-penerbitan buku dari buku sekolah, buku kuliah, sampai buku umum. Di Bandung ada ratusan perusahaan penerbitan. Untuk pemasaran bukunya biasa disebarkan ke jaringan toko buku di seluruh Indonesia. Selain itu, para penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jawa Barat biasa menggelar pameran buku rutin di Gedung Landmark Jln. Braga. Pemasaran lain juga di toko-toko buku di Bandung dan Pasar Buku Palasari.

4. Pasar Buku Palasari
Pasar Buku Palasari mulai dikenal sebagai pusat perdagangan buku sekitar tahun 1980-an. Mulanya, sejak tahun 1950-an para pedagang - yang kini menjajakan buku-buku mereka di Palasari - berjualan buku-buku bekas di kawasan Cikapundung, tak jauh dari Alun-Alun.

Pada tahun 1982 mereka direlokasi ke Jalan Palasari dan ditempatkan di lantai dua bangunan Pasar Inpres Palasari oleh pemerintah Kota Bandung. Hanya beberapa tahun setelah pindah ke Palasari, pasar buku ini sudah menancapkan namanya sebagai pusat perdagangan buku antik terlengkap di Bandung. Pada masa kejayaannya tersebut, perdagangan buku-buku antik menjadi pusat kegiatan utama Pasar Buku Palasari.

5. Museum sebagai tempat wisata edukasi
Salah satu destinasi wisata edukasi adalah dengan mengunjungi museum. Di Bandung ada banyak museum yang isinya bertema sejarah juga pendidikan, di antaranya ada Museum Geologi (kebumian); Museum Sri Baduga (sejarah Jawa Barat); Museum Mandala Wangsit (sejarah Kodam III/Siliwangi); Museum Pos; Museum Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat; Museum Gedung Sate (sejarah pembangunan Gedung Sate); Museum Konferensi Asia Afrika (KAA); Bandung Planning Gallery di Balai Kota; atau ke Museum Gedung Sate.

Malah, ada satu museum yang khusus pada bidang pendidikan yakni Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Pembangunan Museum Pendidikan Nasional ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab UPI sebagai perguruan tinggi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian warisan sejarah budaya bangsa khususnya di bidang pendidikan.

6. Wisata mengenal kampus perguruan tinggi
Bagi Anda yang masih SMA dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai kampus-kampus terkenal di Bandung bisa mengunjungi perguruan tinggi maupun swasta yang terkenal di Bandung, di antaranya ada kampus ITB di Jln. Ganesha (cabangnya ada di Jatinangor); kampus Unpad di Jln. Dipatiukur dan di Jatinangor: kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jln. Setia Budhi (Ledeng); kampus Unpar di Jln. Ciumbuleuit: kampus Unisba di Jln. Tamansari; kampus Unpas; dan kampus Telkom University di kawasan Bojongsoang, Kab. Bandung.

7. Wisata edukasi bagi anak-anak
Untuk wisata edukasi di Bandung bagi anak-anak banyak tempat wisata. Beberapa di antaranya ada wisata Kota Mini di kawasan Floating Market Lembang; Kebun Binatang Bandung; Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution; museum-museum; Puspa Iptek Sundial di Kota Baru Parahyangan (Padalarang); atau wisata ke taman-taman tematik di Bandung. Beberapa tempat wisata di kawasan Lembang dan Ciwidey pun banyak yang menyediakan wisata edukasi bagi anak. Terutama pengenalan kepada alam dan lingkungan.

8. Wisata literasi di perpustakaan
Untuk wisata literasi, bisa mengunjungi Perpustakaan Umum Jawa Barat yang berlokasi di Jln. Kawaluyaan Indah II No. 4 Soekarno Hatta  yang buka hari Senin - Sabtu dan Perpustakaan Gasibu yang buka Senin - Minggu jam 12.00.

Lalu ada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung dimana gedung dan areanya terbilang sangat nyaman sehingga pas buat wisata literasi. Lokasinya pun berada di pusat kota dimana tak jauh dari Jln. Merdeka yang dikenal dengan Bandung Indah Plaza (BIP) dan Balai Kota Bandung. Tempat wisata literasi ini pun tak jauh dari kawasan wisata belanja dan kuliner di Jln. LLRE Martadinata atau Jln. Riau. Gedung Dispusip Kota Bandung pun tak jauh dari GOR Saparua dan Taman Lalu Lintas Bandung.

9. Belajar bersama komunitas
Di Bandung banyak komunitas-komunitas yang berhubungan dengan edukasi dan literasi. Seperti Komunitas Aleut yang concern di wisata edukasi seputar sejarah Bandung; Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung yang berhubungan dengan pelatihan menulis; atau komunitas film indie di Bale Motekar Unpad.

10. Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Kab. Bandung Barat.