Review

Tempat-Tempat Wisata Sejarah Perjuangan Bangsa di Bandung

share to whatsapp



Wisata Sejarah di Bandung

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”, demikian kata Bung Karno dalam pidatonya saat memperingati Hari Pahlawan 10 November 1961. Sudah saatnya kita mengingat,menghargai,dan belajar dari tokoh bangsa dimasa lalu ,untuk membangun generasi muda indonesia yang lebih baik. Tahun ini, Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-74. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sepatutnya kita mengenang dan menghargai jasa para pahlawan.

Dan Bandung sendiri merupakan salah satu kota di Indonesia yang menjadi bagian dari gerakan perjuangan bangsa, baik saat merebut maupun mempertahankan kemerdekaan. Bila Anda sedang melancong ke Bandung dan ingin berkunjung ke tempat-tempat wisata sejarah perjuangan bangsa di Bandung, berikut ini beberapa lokasinya:

1. Gedung Sate
Gedung tempat dinas Gubernur Jawa Barat ini merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Bandung. Berlokasi di Jln. Diponegoro, Gedung Sate menyimpan kisah sejarah perjuangan anak bangsa dimana pada 3 Desember 1945 terjadi peristiwa memilukan di gedung tersebut. Tujuh nyawa melayang karena berusaha mempertahankan Gedung Sate dari serbuan tentara Gurkha yang didukung oleh Belanda dan Inggris.

Pada tanggal tersebut, gugur tujuh orang karyawan yang berjuang mempertahankan Gedung Sate yang waktu itu jadi markas Departemen PU di Kota Bandung. Peristiwa ini kemudian dikenang dan diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Uumum.

2. Monumen Bandung Lautan Api, Tegallega
Bila Anda main ke Lampions Park atau Taman Tegallega, di sebelah utara lapangan ini ada monumen Bandung Lautan Api. Monumen Bandung Lautan Api memiliki ketinggian hingga 45 m dan dibangun dengan 9 sisi. Dilihat dari ujung monumen ini terlihat seperti kobaran api dengan warna yang menyerupai bara api. Monumen ini dibangun pada 1981.

3. Tugu Pahlawan Toha, Dayeuhkolot
Ini masih berhubungan dengan peristiwa Bandung Lautan Api dimana salah satu pejuang yang terkenal adalah Mohamad Toha. Untuk mengenang jasa Mohamad Toha, di kawasan Dayeuhkolot. Lokasinya sebelum Pasar Dayeuhkolot yang bisa dijangkau dari arah keluar tol Moh. Toha belok kanan ke arah selatan.

Yempat bekas gedung mesiu sekutu yang dibomnya, didirikan Tugu Pahlawan Toha. Tugu tersebut dibangun atas swadaya masyarakat pada tahun 1957, kemudian pada 1990-an pemerintah merenovasi dan merawatnya hingga sekarang.

Di samping tugu yang berdiri di tepi kolam itu, terdapat sebuah plakat yang berisi daftar prajurit yang gugur saat peristiwa Bandung Lautan Api. Di seberang kolam di belakang tugu terdapat relief. Tugu itu berbentuk api menyala yang didaki orang-orang berseragam tentara, sementara di bagian atasnya patung Mohamad Toha berdiri sambil memegang bom.

4. Tugu Juang Siliwangi
Lokasinya di Bandung Selatan sebelum Rumah Sakit Al Ihsan, Baleendah. Bila hari Minggu area dekat tugu biasa jadi tempat pasar tumpah. Tugu Juang Siliwangi diresmikan pada 20 Mei 1975, oleh Gubernur Jawa Barat yang menjabat pada waktu itu Aang Kunaefi dan Pangdam VI/Siliwangi Letnan Jenderal TNI Raden Himawan Soetanto.

Dua buah plakat menempel di bagian dinding monumen tersebut, dimana salah satu plakat bertuliskan keterangan bahwa tugu tersebut dibangun untuk memperingati hari jadi ke-29 Kodam VI/Siliwangi sekaligus peringatan ke-67 hari Kebangkitan Nasional.

5. Wisata Jejak Peninggalan Soekarno
Ada banyak peninggalan jejak Presiden pertama RI ini selama beliau di Bandung. Salah satu lokasi yang kerap dilupakan, ada rumah Ibu Inggit Garnasih (istri pertama Ir. Soekarno) di Jln. Ciateul (dekat Tegallega/Astana Anyar). Ibu Inggit sendiri dimakamkan di pemakaman Porib dekat Pasar Induk Caringin Bandung.

Untuk saksi perjuangan Bung Karno ada Gedung Indonesia Menggugat di Jln. Perintis Kemerdekaan (sebelah barat Balai Kota Bandung). Nama Gedung Indonesia Menggugat Bandung diambil dari judul pidato pada pembelaan yang dibuat oleh Soekarno dan ia bacakan sendiri di salah satu ruang di gedung ini pada saat sidang pengadilan kasus politiknya tahun 1930. Pada zaman kolonial, Gedung Indonesia Menggugat merupakan gedung pengadilan kolonial Belanda.

Pada 2 Desember 1930, di gedung ini Soekarno membacakan Pledoi fenomenanya yang berjudul Indonesia Menggugat (Indonesië Klaagt Aan). Pledoi ini dibacakan Soekarno sebagai pembelaan sekaligus kegeraman pada penangkapannya.

Nama Gedung Indonesia Menggugat diberikan pertama kali pada 2005 oleh Prof.Dr. (HC) Letjen TNI (Purn) Mashudi, Gubernur Jawa Barat 1960 -1970 dan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka 1978 – 1993. Selanjutnya Gedung Indonesia Menggugat diresmikan sebagai ruang publik pada 18 Juni 2007 oleh Pemerintah Kota Bandung.

Lalu ada di kawasan Banceuy dekat Alun-Alun Bandung yakni sel bekas penahanan Soekarno. Tempat lainnya ada di kawasan timur yakni LP Sukamiskin, namun harus ada izin dulu untuk melihat bekas sel Bung Karno tersebut.

6. Wisata Museum
Untuk wisata ini Anda bisa mengunjungi museum-museum di Bandung yang terkait perjuangan bangsa. Di antaranya ada Museum Mandala Wangsit (sejarah Kodam III/Siliwangi). Museum ini berlokasi di Jalan Lembong, kecamatan Sumurbandung. Jalan ini diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Bangunan museum yang memiliki gaya arsitektur Romantisisme akhir ini dibangun di era kolonial Belanda antara tahun 1910-1915 sebagai tempat tinggal para perwira Belanda. Koleksi museum terdiri dari peralatan perang yang digunakan oleh pasukan Kodam Siliwangi, dari senjata tradisional Sunda yang digunakan sebelum era modern seperti tombak, panah, keris, kujang, dll.

Juga terdapat galeri lukisan yang menggambarkan romusha atau kerja paksa yang terjadi di zaman pendudukan Jepang. Terdapat juga koleksi fotografi mengenai peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 di Bandung dan peristiwa peracunan pada tanggal 17 Februari 1949.

Lalu di kawasan pusat kota Bandung ada Gedung Merdeka dimana Soekarno dulu mencetuskan diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Anda bisa menyambangi museumnya.

7. Monumen Lengkong
Di sudut simpang tiga Jalan Lengkong Besar dengan Jalan Cikawao, dibangun Monumen Peristiwa Lengkong. Lokasinya sebelum kampus Unpas, Lengkong. Di monumen ini tertulis “Pengorbanan kami demi nusa, bangsa, dan agama, Jl. Lengkong Besar, 2 Desember 1945.”

Monumen Lengkong ini didirikan pada tahun 1995 oleh Wali Kota Bandung Wahyu Hamidjaja sebagai bentuk peringatan sebuah pertempuran besar di Lengkong pada akhir 1945. Pada saat itu ada pertempuran besar terjadi di sini antara rakyat Bandung dengan tentara Inggris dan Gurkha yang diboncengi NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie).

Pertempuran besar di Lengkong terjadi hanya beberapa hari setelah banjir besar menggenangi Kota Bandung. November 1945 Sungai Cikapundung meluap, tinggi permukaan ada yang mencapai tiga meter di beberapa tempat. Banjir mulai surut pada 25 November 1945, ratusan warga Bandung hanyut terbawa banjir.

8. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju)
Monumen diresmikan penggunaanya oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995.Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat terletak di Jalan Dipati Ukur No. 48, Kota Bandung. Lokasinya berhadapan dengan Gedung Sate dan di depan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung.

Monumen berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m². serta model bangunannya, berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Monumen diresmikan penggunaanya oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995.

Monju memiliki koleksi hanya berupa 7 buah diorama pada ruang pameran tetap, dan tidak sebanding dengan luas ruangan pameran tetap, sehingga banyak area pameran tetap yang masih kosong belum terisi koleksi. Ada pun koleksi diorama pada ruang pameran tetap tersebut adalah:
1. Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658
2. Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang
3. Diorama Perundingan Linggarjati 1946
4. Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946
5. Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949
6. Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955
7. Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

Juga terdapat relief pada bagian dinding depan Monju. Relief ini menceritakan sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan dalam melawan penjajahan baik Belanda, Inggris dan Jepang.

Monju dilengkapi pula dengan ruang audiovisual, dan ruang perpustakaan yang akan digunakan sebagai sarana dalam memberikan informasi sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat bagi pengunjung. Akan tetapi untuk bahan informasi melalui audiovisual masih belum memadai.




share to whatsapp