Mengenal Ragam Istilah Bahasa Sunda Terkait dengan Pandemi Covid-19




Hantaman pandemi Covid-19 pertama di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020 atau sekitar 4 bulan setelah ditemukan kasus Covid-19 pertama di Cina. Total kasus corona di Indonesia pada 2 Maret sebanyak dua kasus. Pada 6 Maret baru ditemukan kasus positif dengan jumlah 2 kasus.

Saat itu, Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan tangan, meminimalisir interaksi dengan orang lain jika tidak diperlukan, dan meningkatkan kekebalan (imunitas) tubuh agar tidak terinfeksi virus Corona. Hingga Agustus 2021, badai pandemi Covid-19 belum juga mereda. Bahkan yang terpapar  sudah jutaan dan yang meninggal sudah puluhan ribu.

Bagi Anda yang sedang belajar mengenal kosakata bahasa Sunda berdasarkan pandemi Covid-19, berikut ini contoh-contohnya:

1. Usum = musim
"Usum" bisa berupa merujuk pada musim cuaca, kejadian, bahkan mekarnya buah. Berhubung dengan Covid-19, usum ini merujuk pada keadaan/kejadian orang terkena virus Corona, sakit, atau meninggal.

2. Moyan = berjemur
"Moyan" di bawah sinar matahari pagi dipercaya dapat membantu meningkatkan imunitas untuk mencegah paparan virus Corona di tengah pandemi dan meningkatkan asupan vitamin D.

3. Tépa = tertular/terjangkit/terinfeksi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanda-tanda mereka yang terinfeksi virus corona baru adalah batuk, sesak napas, hingga mengalami kesulitan bernapas. Pada kasus yang lebih parah, infeksi bisa menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, bahkan kematian.

4. Menghindari penularan Covid-19 dalam bahasa Sunda:
- Maké masker kalayan bener
- Ngajaga jarak jeung ngahindari riungan
- Ngawasuh leungeun ku cai nu ngalir maké sabun.

5. Istilah-istilah lain:
- cageur = sembuh
- gering = sakit
- nyeri tikoro = sakit tenggorokan
- panas tiris = demam
- nyeri sirah = sakit kepala
- eungap = sesak napas
- lalungsé = kelelahan

----------
Artikel lainnya seputar bahasa Sunda LIHAT DI SINI