Review

Lapangan Tegallega: Dari Pacuan Kuda, Cikal Bakal Persib, hingga Monumen





Hari Sabtu, 9 September 1933 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Kota Bandung. Pada hari itulah berlangsung upacara pembukaan Sportpark Tegallega Bandung. Pembukaan ini, selain dihadiri oleh priyayi-priyayi, juga dikunjungi oleh Burgemeester Bandung dan beberapa ambtenar Eropa. Kira-kira pukul 16.45 WIB, eh WTB (Wilayah Tegallega Bandung), voorzitter (Ketua) Komite Sportpark Tegallega Bandung, tuan Enoch, berpidato singkat tentang riwayat pendirian Sportpark ini yang mengingat akan kepentingan dan kemajuan penduduk Bandung. Pidato ini disambut oleh Burgemeester Bandung dan utusan Voetbalbond Indonesia Jacatra yang mengucapkan selamat.

Seiring dan seirama dengan pembukaan Sportpark Tegallega Bandung itu dimeriahkan dengan turnamen sepak bola antarkota (interstedelijke voetbal wedstrijden) yang diikuti oleh VIJ, Mosvia, dan tuan rumah PSIB.

***

Kita mungkin sering melihat tayangan acara musik secara live di TV. Beribu-ribu orang tumpah ruah di Lapangan Tegallega. Kemacetan yang kerap mewarnai jalanan di sekitarnya tidak luput menghiasi keramaian sekitar Lapangan Tegallega. Di lapangan ini pula monumen Bandung Lautan Api (BLA) berdiri gagah di tengah-tengahnya. Tegallega kini sudah berubah fungsi menjadi tempat orang-orang mengais rezeki, tempat hiburan, sekaligus taman hijau kota.

Kota Bandung pada masa penjajahan Belanda pernah menjadi ibukota pemerintahan Hindia Belanda. Sejarah perjuangan rakyat Kota Bandung pada tanggal 24 Maret 1946 mempertahankan kedaulatannya, yang merupakan bagian dari kemerdekaan nasional, diabadikan dalam sebuah Monumen Perjuangan Bandung Lautan Api (BLA). Monumen ini juga memiliki kaitan dengan lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul "Halo-halo Bandung". Lagu tersebut dibuat untuk membakar semangat para pejuang dalam merebut kembali dari kekuasaan penjajah dan lagu ini tetap populer sampai saat ini.

Saat ini monumen BLA dapat dilihat di dalam Taman Tegallega. Taman Tegallega sendiri merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki luas 16 Ha (sesuai dengan namanya tegal=lapangan, lega=luas). Dulunya taman ini digunakan sebagai tempat pertunjukan pacuan kuda yang digemari oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Bandung. Namun kini, orang berpacu untuk mencari mata pencaharian di sini.

Lihatlah di Jalan Oto Iskandardinata, sisi barat lapangan ini selalu penuh diisi lapak penjual pakaian, buah-buahan, gorengan, barang bekas, hingga es cendol. Mereka tak peduli walau mengambil setengah bahu jalan. Tidak aneh jika kemacetan kerap melanda, apalagi jika angkutan kota pada ngetem di sini. Kesibukan akan lebih terasa jika malam Minggu, bulan Ramadhan, atau saat ada acara di Lapangan Tegallega.

Daerah di dekat kawasan Tegallega ini sebetulnya menyimpan beragam kekayaan sejarah, selain Monumen Bandung Lautan Api. Di sebelah Barat (dekat toko tas Elizabeth) terdapat rumah Ibu Inggit Garnasih (istri pertama Soekarno), di seberang sebelah selatan terdapat Museum Sri Baduga, dan ke seberang sebelah timur berdiri gedung peninggalan Belanda (sekarang Gedung Hubdam Kodam III/Siliwangi) yang masih berdiri megah dan kondisinya tidak jauh berbeda dengan aslinya.