Review

Belanja Sarung Murah di Majalaya, Kab. Bandung





Jika menjelang Lebaran, Anda ingin membeli sarung dengan sistem partai dan harga murah bisa ke Majalaya. Di sini Anda bisa membeli sarung untuk pemberian THR ataupun untuk diberikan kepada sanak saudara. Urusan harga, Anda tingga memilih dari kelas biasa sampai sarung kelas eksklusif.

Sejarah Sentra Sarung Tenun Majalaya
Majalaya adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung. Daerah ini bisa dijangkau dari arah keluar tol Buah Batu - Bojongsoang - Baleendah - Ciparay - Majalaya. Daerah ini pun bisa diakses dari daerah Rancaekek. Salah satu komoditas industri rumahan penduduk Majalaya adalah kerajinan kain sarung teneun. Masyarakat Majalaya sudah memiliki keterampilan menenun dengan memproduksi stagen (busana wanita) untuk dikonsumsi sendiri atau dijual kepada tetangga sekitar dengan menggunakan alat sederhana yang disebut kentreung. 

Kisah keterampilan menenun penduduk Majalaya mempunyai sejarah tersendiri. Sekitar tahun 1930-an seorang Belanda yang singgah ke Majalaya melihat empat gadis penenun. Keempat sahabat tersebut diberi pelatihan dan disekolahkan di Bandung untuk mendapatkan pendidikan yang lebih mengenai pertenunan. Kemudian keempatnya diberi modal Alat Tenun Kayu (ATK = ATBM) untuk membuka usaha mandiri.

Keempat penenun tersebut adalah Nyi Mas Maryam, Nyi Enda Suhaenda, Nyi Oya Rohaya, dan Nyi Icih.  Wanita penenun tersebut kemudian membuka usaha sendiri-sendiri kecuali Nyi Icih. Nyi Mas Maryam menggabungkan usaha pertenunannya dengan usaha tenun Bapak Ondjo Argadinata dan menamai usaha tersebut "Pusaka".

Sementara Nyi Enda Suhaenda mendirikan usaha "Roswida" dan Nyi Oya Rohaya membuka usaha "Tawakal". Seluruhnya berfokus pada usaha tenun sarung. Saat itu kemajuan usaha pertenunan sangat cepat, disamping harga alat yang dapat dijangkau, keterampilan masyarakat saat itu sangat memadai. Inilah kemudian yang menjadikan "revolusi industri" di Majalaya, dimana para penduduknya banyak yang beralih menjadi penenun.

Pasca kemerdekaan pada tahun 1950-an pengaruh dari importir Batavia yang menawarkan penggunaan alat yang lebih canggih dengan menggunakan mesin yang dikenal dengan nama Alat Tenun Mesin (ATM). Alat buatan dari luar negeri ini turut mempercepat ekspansi perusahaan di Majalaya. Masyarakat tidak hanya menenun kain sarung, mereka juga memproduksi kain putihan (kain polos) yang kemudian berkembang menjadi kain kasur. 

Pada tahun 1960-an Majalaya mencapai puncak produksinya hingga terkenal dengan kota sandang, seiring banyaknya aliran uang yang mengalir kota inipun mendapat julukan kota dollar. Perubahan konstalasi politik, perubahan iklim kerja, dan perubahan ekonomi turut membawa andil dalam perkembangan pertenunan di Majalaya.

Mencoba Bertahan
Perkembangan teknologi yang sangat cepat, mendesak banyak industri tenun rumahan yang masih menggunakan tustel (ATBM) mulai tergeser dan bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan produk yang dihasilkan oleh ATM pada industri berskala menengah dan besar. Beberapa masyarakat beralih dengan melakukan kegiatan usaha yang sangat marginal, seperti pembuatan kain lap, keset dan sebagainya. Sekitar tahun 1970-an banyak pabrik-pabrik pribumi yang dijual terhadap pengusaha asing atau WNI nonpribumi, karena persaingan yang ketat dengan industri menengah dan besar yang menggunakan ATM dengan kapabilitas yang besar pula. 

Penjualan pabrik ini merupakan titik akhir dari rangkaian proses pengambilalihan perusahaan pribumi oleh pengusaha asing atau WNI nonpribumi. Namun, sebagian kecil masyarakat masih mempertahankan usaha tenun ATBM dengan pangsa pasar yang berbeda dengan industri besar. Jenis tekstil yang dihasilkan adalah tekstil yang hanya bisa dilakukan dengan ATBM dan tidak mampu dibuat oleh ATM. Disini, butuh strategi khusus untuk mensiasati persaingan yang ketat.