Review

Wisata Mengenal Isi Bumi di Museum Geologi





Bila pada postingan sebelumnya kami telah memberikan informasi mengenai sejarah dan perkembangan Museum Geologi. Kali ini tim wisatabdg.com ingin mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat dengan museum ini. Pada Selasa, 6 Januari 2015, kami tim wisatabdg.com bersepakat untuk menjelajahi "jeroan" dan suasana sekiat Museum Geologi lebih dekat. Ba'da dzuhur kami sepakat untuk berkumpul di halaman Museum Geologi dan masuk bersama-sama ke museum tersebut. Oleh petugas keamanan, kami disuruh untuk memarkir kendaraan yang ada di belakang Museum Geologi. Kami pun kemudian berjalan kembali ke depan untuk menuju pintu masuk.

Awalnya, kami melihat-lihat dulu bagian luar dan sempat memotret beberapa objek di sana. Bangunan bercat putih ini masih kokoh berdiri di Jalan Rembrandt Straat atau sekarang Jalan Diponegoro. Di halaman museum, ada prasarti yang ditandatangani Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden RI kala itu pada tanggal 23 Agustus 2000. Keadaan Museum Geologi sudah jauh berbeda dengan saat dulu kami pernah ke sini. Sekarang sudah tertata dengan eye catching dan nuansanya lebih modern. 

Pertama kami masuk ke ruang tiket yang ada di sebelah kiri bangunan museum. Di sana ada banyak pengunjung yang sedang berkerumun membeli tiket. Harga tiket Rp. 3000,- rupanya sangat murah dan bisa terjangkau oleh anak PAUD sekalipun. Kami melihat anak-anak PAUD yang dibimbing oleh gurunya sedang membeli tiket. 

Tiket tersebut kemudian menjadi syarat masuk ke dalam Museum Geologi. Rupanya di dalam juga sudah banyak pengunjung, malah rombongan wisatawan dari Malaysia dan Amerika sempat berbincang dengan kami dan mereka merasa takjub akan isi Museum Geologi.

Ditata Lebih Nyaman
Penataan museum sekarang lebih nyaman dan bisa membangun suasana bagaimana pengisi bumi zaman purba. Di lantai satu, pengunjung terlihat sedang asyik mengamati benda-benda prasejarah. Bahkan anak-anak kecil terlihat begitu antusias melihat-lihat dari satu ruangan ke ruangan lain. Terlihat juga pengunjung membidikkan kamera handphone-nya ke objek-objek yang ada di sana. 

Anak-anak dan pengunjung dewasa terlihat mengamati aneka rangka binatang dan fosil lain. Di lanai dasar ini menyajikan gambaran sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan berisi informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitif pun belum ditemukan. 

Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal. Keberadaan hewan  terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Inilah yang menjadi favorit pengunjung untuk berfoto. Rangka T Rex dijadikan background untuk pemotretan.

Di lantai dasar pula, pengunjung asyik mengamati kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia. Semua terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur). 

Aneka Fosil Purbakala
Di sini juga pengunjung bisa melihat aneka fosil purbakala, salah satunya pohon-pohon purba yang telah membatu. Ada juga fosil kerang raksasa yang ditemukan di Padalarang. Penataan display juga didukung dengan adanya layar-layar komputer yang menyajikan aneka informasi seputar penelitian dan penjelasan kehidupan zaman purba serta peninggalannya. Ada juga benda-benda yang rusak terkena semburan letusan Gunung Merapi.

Puas melihat-lihat di lantai dasar, kami naik ke lantau 2 melewati tangga di sebelah utara. Di ruang tengah lantai dua, pengunjung bisa melihat maket pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di Pegunungan Tengan Irian Jaya. Tambang terbuka Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 1,186 miliar ton; dengan kandungan tembaga 1,02%, emas 1,19 gram/ton dan perak 3 gram/ton. 

Selain itu, ada juga maket gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawahtanah aktif di sekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 miliar ton. Bekas Tambang Ertsberg (Gunung Bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik.

Video di Museum Geologi KLIK DI SINI

Di lantai dua kita bisa istirahat sebentar di kursi besi yang telah disediakan. Jika ingin melepas pandangan, bisa bergerak ke arah jendela dan memandang suasana Jalan Diponegoro. Dan rasanya kami sudah cukup menikmati suasana di Museum Geologi serta tentunya mendapat pengetahuan baru tentang isi bumi ini. Selanjutnya kami turun ke area halaman dan nongkrong dulu di sana. Di bawah pohon melinjo, disediakan tempat duduk dari batu dan kayu. Di sini kami duduk istirahat dulu dan memesan makanan dan minuman yang bisa dibeli di pedagang-pedahang yang nongkrong di luar pagar Museum Geologi. Pukul 16.00, terlihat petugas pun menutup pintu museum. *(A-001)