Review

Lokasi Wisata Baru Nan Asri di Tepian Anak Sungai Cikapayang, Jln. Merdeka




taman anak sungai cikapayang bandung

Pada Kamis, 31 Desember 2015 diresmikan ruang publik baru yakni tepian anak Sungai Cikapayang. Dalam akun media sosial (30/12/2015), Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan bahwa revitalisasi Sungai Cikapayang di kawasan Jln. Merdeka sudah selesai digarap. Upaya revitalisasi ini merupakan proyek percontohan penanganan sungai di Bandung yang sudah direncanakannya tahun-tahun sebelumnya.

Kawasan nantinya bisa digunakan sebagai ruang publik bagi warga Bandung maupun wisatawan. Selain itu, revitalisasi ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat atas pentingnya sungai.Untuk penataan kawasan  ini, Kang Emil pun ikut mendesain langsung dengan membuat bendungan filter air skala kecil. Diharapkan tempat baru ini bisa menjadi ruang publik yang nyaman. Inilah upaya lain yang dilakukan Pemkot Bandung dalam urusan menata lingkungan di sekitaran Kota Bandung.

Maklum saja selama ini untuk urusan sungai, Bandung kerap dipandang sebagai kota dengan sungai-sungainya yang kurang terurus dan kurang tertata. Misalnya dulu di pinggiran Sungai Cikapundung dikenal banyak kawasan kumuh. Bukan hanya itu, aliran airnya pun keruh dan banyak sampah. Maka, dengan hadirnya ruang publik di dekat Balai Kota Bandung ini bisa menjadikan warga semakin bersahabat dengan sungai.

Kesejukan dan Keasrian Tepian Anak Sungai Cikapayang
Revitalisasi yang dilakukan akan menyambung hasil yang sudah ada dengan panjang 400 meter sampai ke dekat Taman Vanda. Hasil dari revitalisasi yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan yang sudah ada. Dalam pembenahannya akan dilakukan penataan trotoar, penambahan taman dan fasilitas lain seperti kursi, lampu hias, dan penataan sungainya. Hasil revitalisasi tempat ini diperindah dengan hadirnya tanaman bunga juga penataan yang pastinya akan menarik warga Bandung atau wisatawan untuk berkunjung.  Untuk tempat berjalan-jalan dipakai batu granit sehingga lebih terkesan nyaman dan aman.

Revitalisasi ini bertujuan untuk menyediakan ruang publik yang nyaman sekaligus menata sungai. Selain itu, revitalisasi ini pun lebih mengembangkan aspek ekologi, dimana kawasan hijau di tempat ini bikin nyaman para pengunjung. Jika Anda ke tempat ini, akan terlihat keasrian dan kebersihan sungai yang terjaga. Sungainya tidak ada sampah-sampah juga di sekelilingnya bisa membuat nyaman para pengunjung. Penjernihan air yang diterapkan pada Sungai Cikapayang di antaranya menggunakan pasir zeolit yang sudah biasa digunakan untuk penjernihan. Sebagai tambahan, disertakan pula bahan kimia berbentuk serbuk. Bahan tersebut dicampurkan dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan penjernihan air.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun berharap 40 sungai di Kota Bandung seperti Sungai Cikapayang Jalan Merdeka, airnya bening dan ikan bisa hidup. Pada 9 Mei 2015 lalu, Emil juga melepas delapan ekor ikan di Sungai Cikapayang . Menurutnya pula, renovasi sungai Cikapayang sebagai eksperimen membuat bendungan filter air skala kecil. Ke depannya, untk bendungan filter air skala besar akan diujicoba di Sungai Cikapundung.

Restorasi Cikapayang tersebut memakan biaya sebesar Rp 5,2 miliar. Pedestrian terbuat dari batu berpola, andesit dan jalan untuk penyandang disabilitas. Di Taman Anak Sungai Cikapayang tersebut juga ada sungai dangkal yang bisa dilakukan untuk terapi. Kini, aliran anak sungai tersebut biasa dipakai para pengunjung, khususnya anak-anak untuk berbasah-basah. Sementara di antara anak sungai dan Jalan Merdeka terdapat area publik yang dilengkapi dengan kursi-kursi.

Pengunjung bisa bersantai sambil melihat bunga-bunga indah atau berselfie ria. Di sebelah timur terlihat Polrestabes Bandung, Gereja Katedral Santo Petrus, serta di selatan ada Taman Vanda  dan berdiri megah Gedung Bank Indonesia. Untuk parkir, pengunjung bisa memarkirkan kendaraan di dalam area Balai Kota Bandung. Di sini pun pengunjung bisa bersantai di dalam Taman Balai Kota. Duduk-duduk di depan patung Badak Putih atau memasang gembok cinta.

Sejarah Sungai Cikapayang
Adalah Raden Adipati Aria Martanagara yang berada di balik Sungai Cikapayang ini. Sungai buatan ini merupakan salah satu karya dalam masa pemerintahan Rd. Martanagara (1893-1918). Sebenarnya, Cikapayang sendiri awalnya adalah jalur kanal, selanjutnya kanal ini lebih dikenal dengan sebutan sungai Cikapayang.

Cikapayang sendiri (mungkin) dalam arti langsung mengandung pengertian asal dari kata "Kapayang" (pohon picung/keluwek/kepayang) dengan nama Latin Pangium edule Reinw. ex Blume; suku Achariaceae, dulu dimasukkan dalam Flacourtiaceae). Biji picung/keluwek alias kapayang biasa dipakai sebagai bumbu dapur masakan Indonesia yang memberi warna hitam pada rawon, daging bumbu kluwek, brongkos, atau biasa dibikin sambal. Mungkin dulu di sekitaran kanal ini banyak pohon kapayang atau dalam bahasa Indonesia "kepayang". Bahkan ada ungkapan "mabuk kepayang", memang seperti namanya, tanaman ini mampu membuat orang menjadi kepayang (mabuk atau pusing). Hal ini dikarenakan, terutama bijinya, mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi.

Untuk menghilangkan kandungan asam sianida, buah kepayang atau picung yang telah matang dan jatuh dari pohon dikumpulkan dalam satu karung dan dibiarkan basah oleh air hujan atau malah direndam dalam air dalam waktu 10 - 14 hari. Dengan begitu, selain kulit atau sabutnya lebih mudah dikupas juga dapat menghilangkan racun asam  sianida yang terdapat pada bijinya.

Kembali ke cerita pembangunan kanal Cikapayang zaman baheula, waktu itu pembangunannya mengerahkan puluhan penduduk yang sekarang dikenal dengan nama Balubur. Hal ini dimuat dalam buku Wajah Bandung Tempoe Dulu dimana dalam buku tersebut, Sang Kuncen Bandung, Haryoto Kunto menggambarkan kondisi kanal ini dahulu tebing pinggirnya masih lebar dan curam dengan air yang deras dan jernih.

Derasnya air di aliran Cikapayang di daerah Balubur (depan Rektorat ITB sekarang), di sekitar percabangan aliran Cikapayang sendiri ke timur ke arah Gasibu dan ke selatan ke arah Pieterspark (Taman Dewi Sartika/Taman Balai Kota). Pembangunan kanal Cikapayang sendiri waktu itu lebih dimaksudkan untuk mendukung tata kelola drainase di Kota Bandung juga untuk kebutuhan lainnya.

Sebagaimana dikutip dari laman komunitasaleut.com, wajah suram tepian Sungai Cikapayang dimulai pada 1980-an dengan mulai hadirnya rumah-rumah dan perkampungan di daerah aliran Cikapayang (di belakang Apotek Kimia Farma, perempatan Jl. Dago - Jl. Riau). Kondisi tebing aliran Cikapayang pun semakin terdesak. Di daerah tengah, Sasak Gantung adalah satu dari tiga tempat Cikapayang bermuara kembali ke Sungai Cikapundung, dimana titik awalnya pun berasal dari hulunya di Sungai Cikapundung (daerah Lebak Gede).

Taman Tepian Anak Sungai Cikapayang
Jln. Merdeka/area Balai Kota Bandung
[Lihat Lokasi]

- Foto-foto lihat di sini.
- Video tonton di sini.