Review

Sejarah Pendopo di Alun-Alun Bandung




Sejarah Pendopo Kota Bandung

Belum pernah wisata sejarah ke pendopo walikota Bandung ? Pendopo ini usianya sudah 2 abad. Kalo beruntung, Mau melihat penampakan walikota Bandung? Mulai besok 25 Desember 2016 sd tgl 1 januari 2017 terbuka setiap hari untuk wisata umum dari jam 09.00-12.00. dan 13.30-16.00. Selanjutnya terbuka untuk wisata hanya setiap Sabtu Minggu di jam yang sama. Silakan datangi rumah bersejarah rakyat Bandung ini. Hatur Nuhun. *mohon berpakaian yg sopan, tidak parkir di pendopo dan tidak bawa makanan minuman juga mantan. 

Itulah caption di video yang diunggah di akun instagram Wali Kota Ridwan Kamil pada Sabtu (24/12/2016). Pengumuman tersebut menjadi momen yang terbilang langka, dimana masyarakat umum bisa menikmati wisata di Pendopo saat libur Natal dan tahun baru di Bandung. Rumah Dinas Wali Kota Bandung tersebut berlokasi di Jln. Dalem Kaum no. 1 (seberang Parahyangan Plaza arah timur), Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol, Kota Bandung. Lihat peta lokasi di sini.

Gedung bersejarah yang berlokasi di pusat kota alias Alun-Alun Bandung ini dari 25 Desember 2016 hingga 1 Januari 2017 bisa dikunjungi umum. Adapun kunjungan dibuka hanya hari Sabtu dan Minggu pukul 09.00 - 12.00 dan pukul 13.30 - 16.00 WIB. Para pengunjung pun selain bisa lebih mengenal area Pendopo dan bangunannya, juga bisa wisata sejarah Kota Bandung.

Inialah bangunan tua yang jadi saksi bisu perkembangan Bandung dari masa ke masa. Bangunan ini masih kokoh berdiri di puseur dayeuh Bandung yang sudah "dikepung" gedung-gedung sentra bisnis dan hiruk pikuk aktivitas perekonomian masyarakat. Pendopo Kota Bandung sendiri bisa diakses dari arah Taman Alun-Alun Bandung atau Jln. Asia Afrika ke arah selatan; Terminal Kebon Kalapa ke arah utara; atau dari Pasar Baru ke arah timur (melewati Jln. Dalem Kaum).

Berikut ini beberapa informasi seputar Pendopo Bandung yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Luas Pendopo Bandung
Pendopo berdiri di atas lahan seluas 18.984 m, dengan luas bangunan utama 1.805,25 m, Luas bangunan Pendopo 470 m, Luas bangunan barat 175 m, Luas bangunan timur 445 m dan Luas halaman 15.475 m

2. Berkaitan dengan sejarah pemindahan ibu kota Kab. Bandung
Tahun 1799, kekuasaan kompeni beralih ketangan Pemerintah Belanda. Kemudian diangkatlah Raden Indrareja, yang bergelar Adipati Wiranatakusumah II, sebagai Bupati Bandung. Ia memerintah hingga tahun 1829 dan berkedudukan di Citeureup. Pada 25 Bloeimaad (Mei) 1811, sejarah besar terjadi. Atas perintah Gubernur Jenderal Mr Herman Willem Deandels, sang Bupati mendapat tugas untuk memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuhkolot). Sementara tempat barunya menjadi tugas Adipati Wiranatakusumah II untuk mencarinya.

Setelah melalui perjalanan panjang menelusuri Sungai Cikapundung, akhirnya sang Adipati menemukan tempat itu berdasarkan pepatah Sunda. Yakni, “garuda ngupluk tanah hade, bahe ngaler-ngetan, deukeut pangguyangan badak putih” (letak lahannya seperti garuda mengepakkan sayapnya, tanahnya subur, landai kea rah timur laut dan berdekatan dengan sumber air). Tempat yang ditemukan itulah kini menjadi lokasi pendapa kota Bandung, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Bandung yang baru. Dan letaknya memang tak jauh dari sumber mata air Sungai Cikapundung dan dua buah sumber mata air bernama Sumur Bandung.

3. Dibangun pada Bupati Wiranatakusumah II
Bangunan heritage di Kota Bandung tersebut dibangun pada tahun 1811 dan selesai pada 1812. Berlokasi di selatan Masjid Agung/Taman Alun-Alun. Pembangunannya sendiri diprakarsai Bupati Bandung ke-6 Wiranatakusumah II (Raden Indrareja/Dalem Kaum). Beliau dikenal juga sebagai pendiri Kota Bandung. Beliau juga yang menjadikan pendopo sebagai gedung pemerintahan pertama dan menanam pohon caringin (beringin) di halaman Pendopo.

4. Semula merupakan bangunan sederhana
Sebelum jadi gedung seperti sekarang, Pendopo awalnya hanyalah bangunan kayu, beratap ilalang dan ijuk. Di sekitarnya dibangun jalan kecil bertabur batu kerikil, dengan kikis (pagar bambu) di kiri kanannya yang disebut lulurung.

5. Renovasi pada masa Bupati R.A.A. Wiranatakusumah IV
Gedung Pendopo pun sempat mengalami renovasi pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) tahun 1850. Dinding Pendopo diganti dengan tembok bata dan beratap genteng. Tahun 1935, dibangun tempat tinggal wali kota di belakang Pendopo yang merupakan hasil rancangan Presiden Soekarno.

Beberapa bangunan tambahan seperti ruang tamu utama, ruang kerja, ruang gudang dalam, ruang tengah, kamar utama, dua kamar keluarga, ruang arab (ruang pertemuan) dan ruang keluarga, serta ruang untuk keluarga Bupati di bagian barat bangunan utama. Di awal tahun 1980-an, dibangun pagar tembok di sekeliling kompleks bangunan Pendopo untuk meningkatkan keamanan.

6. Pendopo dan Dewi Sartika
Di kompleks pendopo pun sempat dibangun Sakola Kautamaan Istri (berada di selatan/belakang Pendopo) yang dipimpin oleh Dewi Sartika atas izin RAA Martanegara pada awal Abad ke-20. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri atas 20 orang dan ruang belajar menggunakan ruang di Pendopo. Namun dalam perkembangannya, sekolah ini pindah ke Jln. Ciguriang, Kebon Cau.

7. Renovasi pada masa Wali Kota Ateng Wahyudi
Bangunan dengan benteng bercat putih tersebut, pada masa pemerintahan Ateng Wahyudi (1983-1993) tahun 1993 pernah dipugar. Atap pendopo diganti menjadi gaya tradisional nusantara yang tersusun tiga. Sejak masa pemerintahannya jugalah, bangunan ini resmi kembali menjadi tempat kediaman wali kota Bandung.

- Foto-foto di Pendopo Bandung lihat di sini.
- Video di Pendopo Bandung tonton di sini.