Review

Sejarah Gedung De Javasche Bank (Bank Indonesia Bandung)





Awal didirikan, Bandung bukanlah sebuah kota, tapi merupakan sebuah daerah bawahan dari kerajaan Sumedang yang kala itu diperintah oleh Pangeran Aria Koesoemadinata (1790). Namun, setelah Gubernur Hindia Belanda Herman William Daendles naik tahta, ia pun memerintahkan kepada Bupati Bandung agar kelak jika ia kembali daerah ini sudah menjadi sebuah kota.

Setelah memasuki tahun 1814 hingga tahun 1911 secara bertahap dibangunlah pusat-pusat pemerintahan. Maka dibangunlah gedung-gedung pemerintahan secara serius, seperti mendirikan gedung kantor dagang yang berlokasi di Jalan Asia Afrika, Concordia Sociateit, dan Javasche Bank.

Satu hal yang menarik sekaligus membedakan keberadaan De Javasche Bank cabang Bandung adalah pertimbangan pembukaannya di awal abad ke-20. Kekhawatiran pihak militer Hindia Belanda akibat meletusnya perang Boer, menyebabkan adanya pertimbangan untuk mendirikan tempat pelarian kekayaan ke pedalaman Pulau Jawa. Kota Bandung yang berjarak ± 200 km dari kota Batavia (sekarang Jakarta), dipandang sebagai tempat yang ideal untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Selanjutnya, pada pertengahan tahun 1909, rencana pembukaan kantor cabanng De Javasche Bank di Bandung baru dapat diwujudkan; dengan catatan adanya kemungkinan kerugian operasional, yang kembali memperlihatkan adanya pertimbangan nonbisnis yang kuat melatarbelakangi pembukaan kantor cabang ini.

Adanya keinginan untuk membangun kantor cabang De Javasche Bank di Bandung kemudian dilaporkan kepada dewan militer dengan suratnya No. 165 tanggal 7 Mei 1902 serta kepada pihak pemerintah dengan suratnya No. 420 tanggal 16 Juni 1902 yang berisi permohonan agar pemerintah menunjuk kota Bandung sebagai tempat didirikannya kantor cabang De Javasche Bank.

Tepat tanggal 30 Juni 1909, De avasche Bank kantor cabang Bandung, resmi dibuka walau masih menggunakan gedung sementara. A.M. Meertens, yang sebelumnya dikenal sebagai pemegang buku/pimpinan pengganti Kantor Cabang Semarang merangkap Pimpinan Cabang Pengganti Kantor Cabang Yogyakarta dan Solo, ditetapkan sebagai pimpinan cabang sementara untuk kantor cabang di Bandung. Dengan didirikannya kantor cabang Bandung ini, maka De Javasche Bank telah memiliki 15 kantor cabang, belum termasuk kantor cabang Palembang di wilayah kolonialisasi Hindia Belanda.

Gedung Javasche Bank (sekarang Gedung Bank Indonesia) dirancang oleh Edward Cuypers, Fermont, dan Hulswit terdiri dari dua buah gedung. Yang pertama disebut dengan Gedung Perintis yang terletak di sisi Jalan Perintis Kemerdekaan. Sedangkan gedung kedua disebut dengan Gedung Braga yang dibangun di ruas Jalan Braga, di depan Gedung Kertamukti.

Jika dilihat dari bangunannya, Gedung Perintis terlihat lebih baru, hal ini dikarenakan gedung ini sudah pernah mengalami renovasi. Gedung BI ini dibangun pada tahun 1909 dengan nama De Javasche Bank yang kemudian pada tahun 1953 diambil alih dan diresmikan sebagai Bank Indonesia.

Ed. Cuypers sebagai perancang BI lebih banyak mengambil unsur-unsur arsitektur Romawi-Yunani yang sangat kental terlihat dengan pemakaian unsur-unsur kolom silindrisnya dengan kepala kolom yang berukir dan menggunakan pediment yang berbentuk segitiga dan berukir pada bagian tengahnya.

Selain menggunakan gaya arsitektur Romawi-Yunani, Cuypers juga mengambil gaya De-Stijl yang diwujudkannya dalam penggunaan kaca patri. Kaca patri biasanya digunakan pada bangunan-bangunan yang mahal di daerah Belanda pada zaman dahulu, oleh karena itu dengan hadirnya kaca patri di sini, diharapkan akan dapat menimbulkan kesan mewah pada bangunan BI ini.

Selain itu, gedung BI ini didesain simetris, tidak hanya dalam massanya saja, namun juga simetris dalam pola bukaan jendelanya. Sebagai aksen dari pintu masuk, Cuypers memberikan arc yang tinggi menjulang, maksudnya bukaan yang diberikan bisa setinggi tujuh meter, hal ini membuat fasad yang dihasilkan terkesan seimbang.

Profil gedung-gedung bersejarah lainnya LIHAT DI SINI.