Review

Mengenal Sejarah Hotel-Hotel di Bandung




Bandoeng Vooruit adalah yang mengenalkan Bandung sebagai tempat tujuan wisata bagi orang asing. Dulu di Kota Bandung pernah dijadikan tempat penyelenggaraan Kongres Teh Dunia, Kongres Pengetahuan Alam, juga Kongres Ilmu Pengetahuan  (Kawasan Pasifik). Tidak heran pada 1940 menurut catatan sekitar 5% penduduk Hindia Belanda menyempatkan diri berkunjung ke Bandung.Suasana Kota Bandung yang adem tingtrim telah menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Bandung. Zaman kolonial dulu banyak tokoh dan artis kelas dunia yang berkunjung ke Bandung. Malah, sekaliber Charlie Chaplin sampai betah menginap di Hotel Savoy Homan dan beristirahat menikmati kesejukan hawa Bandung di penginapan di kawasan Lembang.

Sekitar zaman Perang Dunia II, Bandung memiliki sekurangnya 12 hotel: Savoy Homann, Grand Hotel Preanger, Hotel Lux Vincent, Flat Complex Olcott park, Hotel Pension Van Hengel, Hotel du Pavillon, Hotel Schomper, Hotel Wihelmina, Pension van Rhijn, Pension Benvento dll. Bahkan Fr. J. Van Es yang berpengalaman menangani Hotel des Indes telah membangun Villa Isola (sekarang Bumi Siliwangi - Kampus UPI). Selain itu, ada juga Villapark Arnsberg dan Villapark Dagoheuvel.
Bergerak ke daerah tonggoh (atas) berdiri mentereng Grand Hotel Lembang, Hotel Tangkubanperahu, dan Hotel Montane. Di sebeleh selatan (tepatnya kawasan Pangalengan) ada Hotel Pension Het Kalfje, Hotel Cileunca, Hotel Pension Citere dan Hotel Pension Vesta. Ke arah barat (kawasan Cimahi) terdapat Hotel Berglust, Hotel Rustoord dan Hotel Pension Tijhof. Sementara di stasiun Bandung terdapat Hotel Andreas.

Namun, beberapa hotel ada juga yang gulung tikar atau beralih fungsi jadi bangunan lain. Misalnya, Flat Olcott Park (di Jalan Merdeka No. 54), pernah menjadi Hotel Pakunegara. Di depannya terdapat bangunan Apotek Kimia Farma (dulua dikenal dengan Bavosta). Pada akhir 1980-an, di kawasan ini didirikan Bandung Indah Plaza.

Ada juga "mantan" rumah sakit bersalin yang kemudian menjadi Hotel Pension Soeti (di Jalan Sumatra No. 54). Kini bangunan yang terletak antara Jalan R.E. Martadinata dengan Jalan Sumatra ini berdiri Hotel Santika yang diresmikan pada 1994. Lalu, ke daerah selatan sedikit, tepatnya di Jalan Tamblong ada Hotel Pension van Rhijn. Kini tempat tersebut namanya berganti menjadi Hotel Royal Palace (sebelumnya bernama Hotel Pension van Rhijn I dan Hotel Istana II).  Dari arah Jalan Tamblong ke daerah barat, ada Hotel Braga. Letaknya di Jalan Braga 8. Hotel ini sebelumnya bernama Wihelmina Hotel yang didirikan antara tahun 1928-1931. Pada 1990-an, hotel ini berubah fungsu. 

Nah, jika Anda berkunjung ke Alun-Alun Bandung, persis menempel di Masjid Raya Bandung ada Hotel Swarha. Bekas hotel ini terletak di Jalan Asia-Afrika (seberang Kantor Pos Besar Bandung dibangun pada 1930 (rancangan arsitek Prof. C.P. Wolff Schoemaker). Hotel Swarha dulu merupakan hotel yang terkenal dengan ciri hotel Islami. Pada Konferensi Asia Afrika (KAA) hotel tersebut dijadikan markas juga tempat menginap wartawan-wartawan yang meliput kegiata KAA tahun 1955.
Dari arah Alun-alun kita beranjak sedikit ke dekat Viaduct (belakang Jalan Braga) ada bangunan yang kini berfungsi sebagai Kantor Pusat PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Bangunan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan ini, dulunya bangunan Grand Nationale Hotel.Yang menginap di sini adalah para pejabat Belanda pada zaman kolonial. 

Sejak dibukanya jalur kereta api yang menghubungkan Bandung-Jakarta, hotel dan penginapan mulai bermunculan. Di sekitar stasiun terdapat Hotel Adem Ajem, Bin-Sin, Bandoeng, Cheribon, Family, Hoa An, Lok Pin, Pantjawarna, Pasoendan, Soelawesi, Semarang, Soematra, Thoeng Hoa, Tiong Hoa, Tiong Kok, Tong An, Trio dan Victoria. Tentunya meningkatnya arus wisatawan ini memancing hadirnya pula rumah-rumah pondokan (biasanya di daerah belakang pasar/dekat Stasiun Bandung).