Review

Sejarah di Balik Gedung-Gedung Ikonik di Kawasan Alun-Alun Bandung



Sejarah bangunan di Alun-Alun Bandung

Bila Anda jalan-jalan ke kawasan Alun-Alun Bandung, mungkin tidak hanya sekadar menikmati wisata pusat kota. Memang, di kawasan ini termasuk spot berkumpulnya para wisatawan terutama dari luar kota. Banyak aktivitas wisata yang bisa dilakukan di kawasan Alun-Alun Bandung ini. Dari menikmati selonjoran di Taman Alun-Alun; naik ke menara Masjid Raya Bandung; berfoto bersama badut-badut di dekat Gedung Merdeka; berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika; naik bus Bandros; melihat Gedung Pendopo Bandung; atau sekadar nongkrong dan berselfie ria di sepanjang trotoar Jln. Asia-Afrika.

Namun bagi Anda, khususnya wisatawan luar kota untuk menambah referensi Anda saat berkunjung ke kawasan Alun-Alun Bandung bisa lebih dekat mengenal gedung-gedung ikonik yang ada di sana. Ya, sambil Anda pun berwisata edukasi mengenai sejarah Kota Bandung. Sebab, gedung-gedung atau bangunan yang ada di kawasan Alun-Alun Bandung adalah saksi bisu perjalanan Kota Kembang yang bisa berkembang hingga seperti sekarang ini.

Berikut ini beberapa gedung/bangunan ikonik yang ada di kawasan Alun-Alun Bandung:

1. Gedung Merdeka
Ini adalah gedung yang jadi saksi bisu penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955. Tahukah Anda bahwa Gedung Merdeka dibangun pertama kali tahun 1895 sebagai warung kopi? Gedung Merdeka dulunya adalah tempat berkumpulnya para saudagar Belanda. Gedung itu pernah direnovasi pada tahun 1920 hingga 1928 dengan melibatkan dua arsitek kenamaan Belanda waktu itu yakni; Van Galenlast dan Wolf Schoemaker.

Awalnya, gedung itu bernama Concordia karena didirikan oleh Societeit Concordia - semacam organisasi perkumpulan opsir Belanda - sebagai tempat hiburan dan bersosialisasi. Presiden Sukarno kemudian mengganti nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka.

2. Gedung De Majestic
Gedung De Majestic (1925) lokasinya satu area dengan Gedung Merdeka. Orang Bandung dulu sering disebut kaleng biskuit (blikken trommel/alias kaleng timah) karena bentuknya mirip kaleng biskuit. Gedung  Pada zaman kolonial, De Majestic ini adalah tempat hiburan dan "kongkow-kongkow" para Meneer Belanda pengusaha perkebunan pada masa itu.

Gedung yang didesain oleh C.P. Wolf Schoemaker, guru besar Technische Hoogeschool te Bandoeng  ini merupakan bioskop pertama di tanah air. Di bagian atas gedung De Majestic terdapat sebuah ornamen Nusantara yaitu Kala (Dewa Penguasa Waktu). Kini De Majestic dikelola oleh institusi milik Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yaitu unit bisnis Jasa dan Hiburan PD Jasa dan Kepariwisataan.

3. Hotel Savoy Homann
Terletak di sebelah timur Gedung Merdeka, hotel peninggalan zaman kolonial ini terletak di kawasan Jln. Raya Asia Afrika. Hotel ini juga jadi saksi bisu saat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika dimana jadi tempat menginap para delegasi. Sebelum seperti sekarang, dulunya gedung ini adalah penginapan milik keluarga Homann. Mereka berasal dari Jerman yang pindah ke Bandung pada 1870.  Hotel Savoy Homann pada era ini masih berupa rumah bilik bambu yang dimanfaatkan untuk penginapan.

Hotel Homann semakin dipercantik dengan sentuhan arsitektur bergaya art deco yang banyak berkembang di Eropa pada 1920-an. Renovasi besar-besaran yang dimulai sejak Februari 1937 melibatkan dua orang arsitek Belanda, yakni AF Aalbers dan R de Waal.

4. Gedung De Vries
Lokasinya bersebelahan dengan Hotel Savoy Homann (terhalang jalan kecil). Gedung De Vries ini dulunya adalah toko serba ada alias toserba pertama di Bandung sehingga sering dikunjungi oleh para preangerplanters. Gedung bergaya Old Indische Style ini menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, peralatan dapur, pakaian dan lain-lain. Setelah sempat terbengkalai sejak akhir era 1990an, pada tahun 2010 gedung ini dipugar dan dikelola oleh Bank OCBC NISP.

5. Masjid Agung Bandung
Masjid Raya Bandung ini didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot). Pada 1826 dilakukan perombakan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika).

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total di antaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Perombakan terakhir, dilaksanakan pada tahun 2001 dan selesai 2004.

Sekitar 50 meteran dari Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat terdapat sebuah jalan atau gang. Di gerbang gang tersebut terdapata Situs Makam Rd. Wiranatakoesoemah II (Dalem Kaum) Bupati Bandung VI (1794-1829) “Pendiri Kota Bandung”.

6. Hotel Swarha
Berada persis di sebarang Kantor Pos Pusat Jln. Asia Afrika. Hotel ini menjadi markas wartawan lokal maupun asing saat Konferensi Asia Afrika berlangsung. Swarha Islamic adalah salah satu dari 14 hotel yang terpilih selama KAA, lainnya adalah Savoy Homann, Hotel Preanger, dan Hotel Astoria (sudah tidak ada), dan Hotel Braga. Gedung Swarha dibangun tahun 1930 - 1935 oleh arsitek Belanda, Wolff Schoemaker. Fungsi awalnya toko dan hotel.  Namun kini, kondisi bangunan ini tidak terawat.

7. Gedung Kantor Pos Besar Bandung
Sejak awal dibangun pada tahun 1863, bangunan kantor pos terus mengalami renovasi. Hingga mengalami perombakan besar-besaran pada tahun 1928-1931. Bangunan kantor pos yang sekarang merupakan hasil rancangan arsitek berkebangsaan Belanda, J. van Gendt dengan gaya desain art deco geometric (modern fungsional) yang dipadu atap bangunan tropis.

Kantor seluas 4.846 m2 ini berdiri di atas lahan seluas 6.006 m2. Dibutuhkan waktu pembangunan selama tiga tahun hingga kantor pos ini diresmikan. Pada salah satu bagian kantor pos terdapat sebuah sumur pompa yang dibangun sejak tahun 1920-an. Diduga, sumur bor tersebut merupakan sumur pertama untuk jenis ini di Hindia Belanda.

8. BRI Tower
Lokasinya tepat di sebelah utara seberang Taman Alun-Alun Bandung. BRI Tower Bandung adalah salah satu gedung tertinggi di Kota Bandung pada dekade 1980-an. Gedung ini dibangun pada 1986. Gedung yang terdri dari 16 lantai. Di balik kemegahannya ini dahulu pernah berdiri Indische Restaurant.

9. Pendopo Kota Bandung
Lokasinya di sebelah selatan seberang Taman Alun-Alun Bandung. Sejak awal berdiri pada tahun 1812 hingga kini, masyarakat menyebutnya Pendopo dan jadi rumah dinas Wali Kota Bandung. Pembangunan Pendopo pada saat itu diprakarsai Bupati Bandung ke-6 Wiranatakusumah II yang bernama asli Raden Indrareja dan kerap dipanggil Dalem Kaum.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) tahun 1850, bangunan Pendopo direnovasi. Dindingnya diganti dengan tembok bata dan beratap genteng. Tahun 1935, dibangun tempat tinggal walikota di belakang Pendopo yang merupakan hasil rancangan Presiden Soekarno.

10. Parahyangan Plaza
Gedung mall yang tenar di era 80-90an ini sekarang jadi pusatnya distro Bandung. Lokasinya bersebelahan dengan Masjid Raya Bandung di sebelah selatan. Parahyangan Plaza berdiri sejak tahun 1982, sukses diawal keberadaanya dan menjadi tempat tujuan belanja yang favorit saat itu.

11. Gedung PLN
Lokasinya di sebelah timur BRI Tower di Jln. Cikapundung Barat. Masyarakat Bandung tempo dulu menyebut bangunan ini dengan nama “Gedung Hebeo”, pelafalan khas tempo dulu untuk kata Gebeo. Tahun 1905 merupakan awal mula kelistrikan di Bumi Priangan. Pada saat itu berdiri sebuah perusahaan bernama Bandungsche Electriciteit Maatschaappij (BEM) yang bertugas mengelola penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan publik.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada 1 Januari 1920 BEM berganti nama menjadi Gebeo yang merupakan kepanjangan dari Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken. Gedung Gebeo yang kini dikenal dengan nama Gedung PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten merupakan rancangan arsitek Belanda, Gmelig Meyling. Gedung ini didirikan pada tahun 1940.

Di dalam Gedung PLN ada situs sejarah Sumur Bandung. Sumur bersejarah tersebut berada di lantai dasar gedung dan dibuatkan ruangan tersendiri yang diberi nama Bale Sumur Bandung. Sumur bersejarah ini merupakan mata air yang memancar keluar, saat Adipati Wiranatakusumah II menancapkan tongkat kayunya pada tahun 1811, yang merupakan titik Nol Kilometer.





share to whatsapp