Review

Gedung De Vries, Toko Serba Ada Zaman Belanda di Bandung



Sejarah Gedung d Vries Bandung

“Sekali tempo di malam Minggu, pintu toko terkunci rapat tanpa penjaga. Vries sekeluarga pergi pesta. Besok paginya pintu toko didapati terbongkar kuncinya. Botol-botol minuman ker*s licin tandas dari etalage dan rak di gudang.

Segepok uang melebihi harga minuman yang hilang, tergeletak di meja kasir. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan para tuan kebon slebor berkantong tebal yang jadi langganan De Vries. Begitulah kelakuan para Preangerplanters, haus dan gersang seperti cowboy turun ke saloon."
....
Itulah salah satu gambaran bagaimana gambaran kelakuan para penduduk Eropa dulu yang pernah mencicipi tinggal di Bandung. Suasana tersebut termaktub dalam bagian Semerbak Bunga Di Bandung Raya karya Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung.

Itulah gambaran mengenai gedung ikonik yang terletak di Jalan Asia Afrika, di seberang Gedung Merdeka dan Museum Konperensi Asia Afrika. Dahulu gedung ini merupakan toko serba ada milik seorang Belanda, yang bernama Andreas de Vries, yang datang ke Bandung pada 1899, dan tercatat sebagai penduduk Eropa. Gedung ini sekarang biasa jadi latar wisatawan saat foto selfie yang berkunjung ke kawasan dekat Gedung Merdeka (Alun-Alun Bandung).

Pada 2005, gedung ini beralih kepemilikan pada OCBC NISP. Hingga 2008, Gedung De Vries dibiarkan tanpa diisi. Baru pada 2010, OCBC NISP merenovasi tanpa mengubah bentuk asli bangunan cagar budaya tersebut dan 2011 mulai digunakan.

Gedeung de Vries lokasi persisnya persis di sebelah barat Hotel Savoy Homann di ujung seberang Jln. Braga Pendek (arah ke selatan). Ialah Andreas de Vries yang pada awal kedatangannya membuka toko kelontong kecil di tepi Jalan Raya Post (Grote Postweg), di sebelah utara Taman Alun-Alun Bandung yang sekarang jadi Gedung BRI Tower. Ia kemudian memindahkan tokonya yang sekarang jadi gedung OCBC NISP Tbk. Patut diketahui, De Vries yang merupakan toko serba ada pertama di Kota Bandung kemudian terkenal sampai seantero kota.

Toko ini dulunya merupakan rumah Belanda, bergaya arsitektur Indis, dengan beberapa pilar di muka gedung. Pada 1879, gedung de Vries ini pernah digunakan oleh Societeit Concordia. Gedung ini pernah jadi tempat perkumpulan Preangerplanter atau pengusaha perkebunan di Priangan, dan kaum elite Kota Bandung yang biasa menggelar hiburan seperti dansa-dansi ala tempo doeloe.

Lalu tahun 1895, Societeit Concordia pindah ke gedung di seberang jalan tak jauh dari de Vries yang sekarang dikenal sebagai Gedung Merdeka.  Sementara toko  yang dikelola Andreas de Vries dikenal pada zamannya sebagai toko serba ada yang menyediakan berbagai barang kebutuhan dari makanan, kain, sepatu, dan obat-obatan, cerutu, buku, dan kertas, keperluan pertanian, barang pecah belah, mebel, dan kebutuhan lainnya. Mungkin inilah cikal bakal mall pertama di Bandung. Area berjualan di Toko De Vries pernah disewa oleh toko pakaian, toko daging, dan toko mobil.

Sementara pada tahun 1909 dan 1920, toko de Vries pernah mengalami pemugaran dengan jasa perancangan oleh biro arsitek Edward Cuypers Hulswit. Di sebelah timur, dibangun sebuah menara yang masih ada hingga saat ini. Selanjutnya kisah perjalanan toko ini, pada dasawarsa pertama abad ke-20, kejayaan toko ini mulai surut.

Pada era selanjutnya, Toko De Vries sempat ditempati oleh Studio Foto Goodland, lalu Restoran Pepping, dan Restoran Padang. Kemudian pada era 1990-an tidak difungsikan, dan berada dalam keadaan tidak terurus.





share to whatsapp