Review

Contoh Dialog Perkenalan dalam Bahasa Sunda




Dialog Kenalan Bahasa Sunda

Perkenalan merupakan momen untuk lebih mendekatkan atau mengakrabkan diri dengan orang lain. Bila Anda yang sedang belajar bahasa Sunda, mencoba berkenalan dengan orang lain bisa dipraktikkan. Ini sebagai upaya agar Anda bisa lebih meningkatkan kosakata bahasa Sunda dan tentunya akan lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain.

Adapun yang jadi patokan utama dalam berkenalan menggunakan bahasa Sunda adalah faktor undak usuk basa alias naik turunnya bahasa. Untuk bahasa perkenalan, penggunaan bahasa Sunda biasanya menggunakan bahasa halus. Namun, ini pun disesuaikan dengan konteks alias sesuai situasi dan kondisi. Apalagi di zaman sekarang penggunaan bahasa halus selain jarang juga kerap kurang dimengerti oleh pihak lawan bicara.

Namun, kali ini akan diberikan contoh dialog perkenalan dalam bahasa Sunda sesuai konteks yang umum yakni bahasa Sunda halus.

A: "Punten, pami teu kaabotan, abdi tiasa kenalan?" 
B: "Mangga..."
Terjemahan:
A: Maaf, kalau tidak keberatan, saya bisa kenalan?"
B: "Silakan..."

A. "Nepangkeun, wasta abdi Andri. Dupi salira?"
B: "Abdi Susi."
A: "Kenalkan, nama saya Andri. Kalau kamu?"
B: "Saya Susi."

A: "Abdi mah dumuk di Jakarta. Dupi Susi linggih di mana?"
B: "Abdi mah di Bandung."
A: "Saya tinggal di Jakarta. Kalau Susi tingal di mana?"
B: "Saya tinggal di Bandung."

A: "Bandung-na di mana?"
B: "Di Jalan Dago."
A: "Bandungnya di mana?"
B: "Di Jalan Dago."

A: "Di Bandung-na damel atanapi sakola?"
B: "Abdi mah masih kuliah. Dupi Akang?"
A: "Di Bandung kerja atau sekolah?"
B: "Saya masih kuliah. Kalau Akang?"

A: "Abdi mah damel di Jakarta. Kuliah di mana?"
B: "Kuliah di Unpad."
A: "Saya kerja di Jakarta. Kuliah di mana?"
B: "Kuliah di Unpad."

A: "Tos seméster sabaraha kuliahna?"
B: "Nembé seméster tilu."
A: "Sudah semester berapa kuliahnya?"
B: "Baru semester tiga."


A: "Abdi mah nuju jalan-jalan di Bandung. Hoyong gaduh réréncangan énggal urang Bandung."
B: "Oooh. Tos jalan-jalan ka mana waé?"
A: "Saya lagi jalan-jalan di Bandung. Pengen punya teman baru orang Bandung."
B: "Ooh. Sudah jalan-jalan kemana saja?"

A: "Tos ka Lembang sareng Ciwidey. Ayeuna badé jalan-jalan ka Alun-Alun Bandung."
B: "Tos nyobian milarian kulinér?"
A: "Sudah ke Lembang dan Ciwidey. Rencana sekarang mau jalan-jalan ke Alun-Alun Bandung."
B: "Sudah coba cari kuliner?"

A: "Teu acan. Engké tos ti Alun-Alun badé milari. Upami badé milari wisata kulinér dimana nya saéna?"
B: "Seueur di Bandung mah. Mung, cobi ka daerah Jln. Burangrang. Seueur di dinya mah."
A: "Belum. Nanti setelah dari Alun-Alun pengen cari. Kalu mau cari wisata kuliner di mana bagusnya ya?"
B: "Di Bandung banyak. Tapi, coba ke daerah Jln. Burangrang. Di sana banyak."

A: "Siap. Engké sonten bade dicobi ka dinya. Punten, bilih sakantenan bade ngiring atuh?"
B: "Duh, hapunten. Engké sonten mah abdi aya peryogi badé balanja."
A: "Siap. Nanti mau coba ke sana. Maaf, kalau sekalian mau ikut?"
B: "Duh, maaf. Nanti sore saya ada perlu mau belanja."

A: "Oh kitu. Teu sawios. Hatur nuhun pisan informasina."
B: "Sami-sami."
A: "Oh begitu.  Gak apa-apa. Terima kasih banyak informasinya."
B: "Sama-sama."

A: "Eh, tapi tiasa nyuhunkeun nomer WhatsApp?"
B: "Mangga. Ieu catet wé."
A: "Eh, tapi (saya) bisa minta nomor WhatsApp?"
B: "Silakan. Ini catat saja..."