Review

Lembur Perpustakaan, Wisata Literasi Masyarakat di Kota Bandung



Wisata Literasi Kota Bandung

Sebagai Kota Pendidikan, potensi wisata literasi di Kota Bandung bisa lebih dioptimalka. Bila melihat pada kondisi di lapangan, Bandung punya sekolah sampai kampus yang terbilang punya nama dalam dunia pendidikan nasional maupun internasional. Selain itu, untuk urusan bisnis penerbitan buku di Bandung pun termasuk pusatnya.

Lalu untuk sentra penjualan buku-buku, Bandung selain punya Pasar Buku Palasari juga ada toko-toko buku berkelas di berbagai titik. Ditambah lagi dengan wisata event pameran buku yang kerap digelar rutin oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jawa Barat.

Masalahnya, apakah potensi tersebut sudah berkelindan dengan kebiasaan masyarakat dalam menumbuhkan budaya literasi? Untuk itu, pihak  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Bandung menangkap peluang tersebut melalui jalur pemberdayaan Taman Bacaan Masyarakt sampai pengembangan wisata literais di Kota Bandung.

Belum lama ini Dispusip Kota Bandung menelurkan program baru bernama Lembur Perpustakaan. Program ini untuk mengakselerasi Program Gerakan Maca Sauyunan (Gemas).

"Lembur Perpustakaan diarahkan menjadi wisata literasi bagi masyarakat," ujar Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Dispusip Kota Bandung, Neti Supriati pada acara Bandung Menjawab di Taman Sejarah Wiranatakusumah, Jln. Aceh, Kamis (27/9/2018) sebagaimana dilansir dari Humas Pemkot Bandung.

Neti mengungkapkan, Pemkot Bandung melalui Dispusip Kota Bandung berkomitmen kuat meningkatkan minat baca masyarakat. Hal tersebut sebagai solusi rendahnya peringkat baca Indonesia yang berada di posisi 60 dari 61 negara pada tahun 2016.

"Setelah Gemas, Dispusip kini menelurkan Lembur Perpustakaan yang kami arahkan menjadi wisata literasi bagi masyarakat. Literasi tidak hanya tentang buku, namun juga kemampuan untuk mengakses dan mengomunikasikan informasi, serta keberaksaraan. Guna mencapai kemampuan tersebut, kampanye tentang literasi harus komprehensif secara terus menerus," katanya.

Diharapkan di setiap wilayah, lembur atau RT, lanjutnya, ada kegiatan yang berbasis literasi. Contoh Lembur Perpustakaan yang sudah mulai tumbuh berkat kolaborasi masyarakat, yaitu Cibunut.

"Di sana edukasi literasi dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mural hingga aktivasi kegiatan masyarakat. Di Cibunut, semua kegiatan tidak lepas dari literasi. Ada gambar literasi mural, aktivitas, diskusi, itu adalah salah satu bentuk komunikasi literasi,” katanya.

Sedangkan wilayah yang mulai berkembang antara lain Rancasari dan Cinambo. Wilayah lain bisa meniru dua wilayah tersebut. Pendidikan literasi di dua lokasi itu sedang tumbuh dengan cukup baik. Keduanya melaksanakan aktivasi literasi sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

Dengan semakin banyaknya Lembur Perpustakaan yang menawarkan aktivitas bertema literasi, Neti berharap hal itu dapat mendongkrak kunjungan wisata ke tempat-tempat tersebut.

“Kami berharap wisata literasi tempat di mana semua orang bisa berkunjung ke sana mau melihat literasi olahraga, misalnya. Tentu bukunya akan kita siapkan. Segmennya akan disesuaikan dengan setiap wilayah,” tuturnya.





share to whatsapp