Review

Balai Kota Bandung, dari Gudang Kopi Jadi Gedung Pemerintah

share to whatsapp



Sejarah Balai Kota Bandung

Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bandung, rasanya belum lengkap bila belum ke Gedung Balai Kota Bandung yang terletak di antara Jln. Wastukancana dan Jln. Merdeka. Gedung tempat berdinasnya walikota Bandung ini di sekelilingnya kini biasa jadi tempat wisata ruang publik. Dari area ini pula wisatawan bisa naik bus wisata Bandros.

Di dalam area gedung Balai Kota sendiri ada Taman Balai Kota hingga ikon patung badak putih. Sementara di area belakangnya ada area Taman Sejarah. Tidak jarang wisatawan mengaitkan keberadaan Balai Kota masih satu kompleks dengan Taman Sejarah. Namun, sebenarnya Taman Sejarah berada di teras Bandung Planning Galery.

Bangunan Bandung Planning Galery pernah berfungsi sebagai Gedung DPRD Kota Bandung. Jika gedung Balai Kota merupakan bekas gudang kopi, Bandung Planning Gallery yang menghadap Jalan Aceh ini bekas rumah Andries de Wilde.

Dan area lainnya ada Taman Cikapayang. Di seberang Balai Kota ada Taman Vanda yang persis depan Bank Indonesia cabang Jawa Barat. Lokasi gedung ini pun sangat strategis dan dekat dengan pusat perekonomian dan wisata seperti Jln. Merdeka, Jln. Dago, dan Jln. Braga.

Gedung Balai Kota (Gemeente Huis) merupakan salah satu bangunan tertua di Kota Bandung. Tahukan Anda, bahwa gedung megah ini dulunya merupakangudang kopi (koffie pakhuis) milik Adries de Wilde (1781-1865). Ia merupakan tuan tanah dan Asisten Residen Priangan pada tahun 1812.

Gudang kopi itu dibangun tahun 1819 saat perkebunan kopi di Priangan berkembang pada abad ke-18. Gudang kopi itu merupakan satu dari delapan gedung tembok baru di Bandung. Tahun 1923, gudang itu diserahkan kepada Pemerintah kolonial Belanda.

Tahun 1927, gudang kopi dirobohkan. Sebagai gantinya, didirikan gedung Balai Kota yang dirancang oleh arsitek EH de Roo. Pendirian Balai Kota ini terkait dengan status Bandung sebagai kota praja sejak tahun 1906.

Bangunan berbentuk persegi panjang ini terletak tidak jauh dari Jln. Braga yang merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat Kota Bandung masa itu. Sejumlah bangunan publik pendukung pun sudah lebih dulu didirikan di sekitarnya, yakni Javasche Bank (1909), Katedral (1921), dan Gereja Bethel (1925).

Seiring dengan berkembangnya Kota Bandung, tahun 1935 Balai Kota diperluas dengan menambah bangunan baru di belakangnya. EH de Roo masih menjadi arsiteknya. Ia merancang gedung baru ini dengan gaya art deco sehingga berkesan lebih modern daripada gedung lama.

Bangunan baru ini dibangun menghadap Pieter Sijthoffpark yang kini bernama Taman Dewi Sartika (Taman Balai Kota) bentuk atapnya yang tampak datar menyebabkan gedung ini pun disebut Gedung Papak. Tahun 1980-an barulah dibangun gedung kembar tambahan di kiri dan kanan gedong papak untuk keperluan perkantoran. Saat kepemimpinan Wali Kota Ridwan Kamil, taman tersebut pun ditata serupa labirin dengan tata cahaya yang estetik saat malam hari.




share to whatsapp