Review

Gedung Jaarbeurs, Saksi Bisu Kejayaan Pameran Bisnis dan Hiburan Bandung Tempo Doeloe

share to whatsapp



Jaarbeurs pasar malam Bandung tempo dulu

Event pameran dagang dan hiburan di Bandung sekarang ini biasa dipusatkan di kawasan Gedung Sate, area Alun-Alun Bandung, atau di gedung-gedung event pameran lainnya. Namun, sejatinya Bandung tempo doeloe punya pameran dagang tahunan yang sangat berkelas. Jadi, tak heran bila event-event wisata di Bandung sampai sekarang biasa digelar. Ya, karena urang Bandung sejak dulu punya jalinan sejarah dengan event-event yang salah satu fungsinya jadi kegiatan wisata dengan keluar rumah dan ngumpul ngariung di satu area.

Kompleks Kologdam
Bila Anda jalan-jalan ke arah GOR Saparua, tepat di kawasan ini ada sebuah gedung yang berada Jln. Aceh, No. 50. Gedung itu sekarang menjadi Gedung Komando Pembina Doktrin Pendidika dan Latihan TNI AD (Kodiklat TNI) AD. Masyarakat sering menyebut gedung ini gedung Kologdam dan tak jaudh dari area ini biasa jadi tempat resepsi pernikahan, yakni di gedung yang bernama Gedung Moh. Toha yang berada di Kompleks Kologdam.

Masih di Kompleks Kologdam terdapat masjid bernama Junudurrahman yang juga kerap digunakan untuk akad nikah. Gedung Jaarbeurs dibangun di atas lahan yang cukup luas yang sejak awal memang sudah direncanakan sebagai tempat penyelenggaraan “bursa tahunan”. Gedung ini dibangun atas prakarsa Wali Kota Bandung B. Coops dan Bandoeng Vooruit. Gedung utama Jaarbeurs adalah hasil rancangan arsitek bersaudara C.P Wolff Schomaker dan R.L.A Schomaker

Bergaya art deco
Ciri khas gedung bergaya art deco tersebut terdapat tiga patung torso di atas bagian depan gedung itu. Adapun di bawahnya terdapat tulisan "Jaarbeurs". Ketiga patung pernah ini ditutup dalam jangka waktu yang lama. Gedung Kologdam digunakan sebagai kegiatan militer Republik Indonesia untuk pertama kalinya ketika ditempati sebagai Markas Detasemen Polisi Militer dipimpin Aboeng Koesman dan Kesatuan Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi dipimpin Letnan I Subrata.

Bila memutar mesin waktu ke era kolonial Belanda, gedung itulah tempat pameran diselenggarakan. Sebelumnya, pameran dagang tahunan biasa diselenggarakan di lapangan olahraga Nederland Indie Athletiek Unie (NIAU) yang sekarang jadi Lapangan Saparua. Pameran yang berlangsung pada 1920 sampai 1924 itu menggunakan bangunan semipermanen, seperti stan di pameran yang diselenggarakan sekarang.

Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun. Dan gedung utama Jaarbeurs pun lalu digunakan untuk pameran serta hiburan. Sepintas gedung ini terlihat mirip dengan gedung Merdeka di Jln. Asia Afrika. Jaarbeurs pertama kali diselenggarakan selama hampir sebulan lamanya dari tanggal 17 Mei sampai dengan 5 Juni 1920 dan dibuka oleh Walikota Bandung saat itu, B. Coops yang juga sebagai pemrakarsa.

Jaabeurs: event wisata dan denyut bisnis Kota Bandung
Berdasar dari buku-buku yang membahas Bandung jaman heubeul, Jaarbeurs biasa berlangsung dengna sangat meriah. Di area event biasa tersedia panggung-panggung pertunjukan dan stand-stand yang menempati bangunan-bangunan semi permanen untuk mempromosikan berbagai produk industri dan perkebunan dari Bandung.

Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung saja. Bahkan wisatawan dan pengusaha dari daerah lain dan mancanegara banyak yang datang. Sehingga hotel-hotel dan villa-villa di Bandung kebanjiran tamu.

Untuk menambah daya tarik, Jaarbeurs dimeriahkan pula dengan berbagai perlombaan dari lomba keroncong tempat Miss Anie Landouw, Miss Netty, dan Miss Ribut tampil. Selain lomba keroncong, pengunjung bisa menyaksikan berbagai macam hiburan kesenian seperti tonil, kabaret, operasi stambul, sulap, sirkus, sampai kesenian rakyat.

Cerita para tokoh di Jaarbeurs
Bahkan banyak kisah unik di kegiatan ini, menurut cerita seniman yang juga pahlawan nasional : Ismail Marzuki ketemu jodohnya Eulis Zuraidah, di arena Jaarbeurs ini. Bahkan, nama pelukis besar Indonesia Basoeki Abdullah pun pernah merasakan "jasa" event ini. Adalah Prof. Wolff Schoemacher, seorang guru besar atanomi di Technische Hoogeschool (sekarang ITB), yang turut mengagumi karya Basoeki Abdullah.

Schoemacher kemudian memberikan kesempatan pada Basoeki Abdullah untuk memamerkan lukisannya di Jaarbeurs. Kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Basoeki Abdullah dengan membuat lukisan yang berjudul “Gatotkaca dan Antasena Sedang Memperebutkan Dewi Sembrada.”

Pameran lukisan karya Basoeki Abdullah di Jaarbeurs merupakan salah satu pameran awal yang turut menjadi tonggak dari awal karir lukis Beliau. Selang beberapa waktu, di tahun yang sama, Basoeki Abdullah pun bertolak ke Belanda, untuk menempuh pendidikan di Koninklijke Academie Van Beeldenden Kunsten, Den Haag. Selain Basoeki Abdullah,  pelukis Barli Sasmitawinata pun pernah memamerkan karya lukisannya di event tersebut.

Berkat penyelenggaraan bursa tahunan itu, daya tarik kota Bandung bertambah sehingga  kebanjiran wisatawan. Mereka bukan hanya berasal dari kota-kota besar di Hindia Belanda, akan tetapi tidak sedikit yang datang dari Negeri Belanda. Acara bursa dagang tahunan ini berakhir setelah Jepang masuk ke Indonesia pada 1942.




share to whatsapp