Review

Berulang Tahun ke-209, Inilah Sisi Lain Sejarah Kota Bandung

share to whatsapp



Sejarah Kota Bandung

"Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah," demikian tulis seorang Mardijker bernama Juliaen de Silva pada tahun 1641, dengan menggunakan bahasa Belanda kuno. Menurut Prof. Dr. E.C. Godee Molsbergen (1935), Landsarchivaris (Arsip Negara) di Batavia; dari data yang sempat ditemukan, Juliaen de Silva mungkin orang asing pertama yang keluyuran ke wilayah Bandung,” tulis Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (hlm. 7).

Di kalangan penduduk pribumi, wilayah Bandung pada abad  ke-17 sering disebut "Tatar Ukur".  Salah seorang penguasa di Tatar Ukur yang terkenal adalah Wangsanata alias Dipati Ukur, yang sekarang jadi nama jalan di kawasan kampus Unpad.

Dan pada Rabu, 25 September 2019, Kota Bandung merayakan hari jadi ke-209. Berikut ini beberapa fakta seputar perjalanan sejarah Bandung:

1. Ukur Sasanga
Dalam tesisnya yang berjudul Bupati-Bupati Priangan; Kedudukan dan Peranannya Pada Abad ke-19, sejarawan Sobana menyebutkan, pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas 9 daerah yang disebut Ukur Sasanga, yaitu: (1) Ukur Bandung (Banjaran dan Cipeujeuh), (2) Ukur Pasirpanjang (Majalaya dan Tanjungsari), (3) Ukur Biru (Ujungberung Wetan), (4) Ukur Kuripan (Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala), (5) Ukur Curugagung (Cihea), (6) Ukur Aronan (Wanayasa), (7) Ukur Sagaraherang (Pamanukan dan Ciasem) (8) Ukur Nagara Agung (Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan, Ciampel, Tegalwaru, Kandangsapi, dan Cabangbungin), (9) Ukur batulayang (Kopo, Rongga, dan Cisondari).

2. Dayeuhkolot dan Cikal Bakal Kota Bandung
Berdasarkan Piagem Sultan Agung yang dikeluarkan pada tanggal 9 Muharam Tahun Alip, Mataram membagi wilayah Priangan dengan mengangkat tiga orang bupati. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang, dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur.

Ki Astamanggala diangkat menjadi Bupati Kabupaten Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun. Ia bersama rakyatnya kemudian membangun Krapyak (sekarang Dayeuhkolot),, Ketika bupati dijabat oleh Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan ke sisi De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos (sekarang Alun-Alun Bandung).

3. Besluit Herman Willem Daendels
Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tepatnya melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels. Sang Gubernur Jenderal mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi kota Bandung.

4. Jalan Raya Pos
Demikianlah perkataan Herman Willem Daendels. "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd" artinya, usahakan, bila saya datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun. Kalimat itu sekaligus perintah kepada Bupati Bandung ke-6, R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) untuk membangun ibu kota Bandung yang baru di sekitar jalan Raya Pos atau De Grote Postweg.

Jalan Raya Pos adalah jalan sepanjang kurang lebih 1.000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. jalan ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels.

Atas perintah itu pulalah, Wiranatakusumah II kemudian memilih sebuah lokasi di dekat sumber mata air yang bernama Sumur Bandung. Dalam Bahasa Sunda, Sumur Bandung berarti sumur yang berpasangan atau berhadapan (dari kata bandungan).

Kedua sumur tersebut berada di tepi barat Sungai Cikapundung. Satu sumur terletak di Bale Sumur Bandung atau Gedung PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten, Jalan Asia Afrika. Sedangkan sumur lainnya berada di bawah bangunan bekas kompleks pertokoan Miramar, Alun-alun Bandung.

5. Hari jadi Kota Bandung sempat dirayakan pada 1 April
Sebelum dirayakan pada 25 September, HUT Kota Bandung sempat diperingati setiap 1 April. Perayaan HUT Kota Bandung pada 1 April tersebut mengambil momen saat dikeluarkannya surat oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutz pada 1 April 1906.

Lewat surat tersebut menetapkan Kota Bandung ditingkatkan statusnya menjadi Pemerintah Kota (Gemeente). Sejak itulah Kota Bandung resmi lepas dari Kabupaten Bandung, walaupun ibu kota Kabupaten Bandung masih terletak di Kota Bandung.

Namun pada tahun 1998, melalui penelitian dan kajian mendalam, akhirnya HUT Kota Bandung ditetapkan pada tanggal 25 September. Penetapan tanggal tersebut sesuai dengan tanggal saat Herman Willem Daendels menyetujui usulan Bupati Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung pada tahun 1810.

6. Lambang Kota Bandung
Sebelum memiliki lambang kota seperti saat ini, lambang Kota Bandung dilengkapi dengan mahkota dan dua ekor singa di samping kanan-kiri perisai. Sedangkan di bawahnya tertulis "Ex Undis Sol".

Di bawahnya juga terdapat motto 'Ex Undis Sol'. Secara harfiah berarti dari matahari laut. Namun ada juga yang mengartikannya sebagai mentari muncul di atas gelombang.

Sedangkan menurut Haryoto Kunto, penulis buku Wajah Bandung Tempo Doeloe, kalimat itu kurang lengkap. Seharusnya berbunyi, 'Ex Undo Solum;. Artinya Dataran Tinggi Bandung muncul dari dalam tanah.

Namun sejak lambang kota Bandung ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota besar Bandung tahun 1953, tertanggal 8 Juni 1953, motto Kota Bandung berubah menjadi Gemah Ripah Wibawa Mukti yang berarti tanah subur rakyat makmur.

7. Wali Kota Bandung dari zaman ke zaman
Sejak era kemerdekaan, telah ada 16 Wali Kota Bandung hingga saat ini. Diawali oleh R.A. Atmadinata (1945), lalu R. Syamsoerizal (19545-1947), Ukar Bratakusuma (1947-1949), R Enoch (1949-1957), R. Priatna Kusumah (1957-1966). Kemudian R. Didi Djukardi (1966-1968), R.Hidayat Sukarmadidjaja (1968-1971), R. Otje Djundjunan (1971-1976), Utju Djoenaedi (1976-1978), R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983), H. Ateng Wahyudi (1983-1993). Selanjutnya yaitu Wahyu Hamidjaja (1993-1998), Aa Tarmana (1998-2003), Dada Rosada (2003-2013), Ridwan Kamil (2013-2018), dan Oded M Danial (2018-sekarang).

8. Pendopo Bandung
Sejak awal berdiri pada tahun 1812 hingga kini, masyarakat menyebutnya Pendopo. Pembangunan Pendopo pada saat itu diprakarsai Bupati Bandung ke-6 Wiranatakusumah II yang bernama asli Raden Indrareja dan kerap dipanggil Dalem Kaum. Bupati yang dijuluki the founding father inilah yang langsung memilih lokasi pembangunan Pendopo. Ia membangun Pendopo tepat menghadap ke arah Gunung Tangkuban Parahu.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) tahun 1850, bangunan Pendopo direnovasi. Dindingnya diganti dengan tembok bata dan beratap genteng. Tahun 1935, dibangun tempat tinggal walikota di belakang Pendopo yang merupakan hasil rancangan Presiden Soekarno.

9. Balai Kota Bandung bekas gudang kopi
Dulu, gedung balai kota ada di Jalan Braga yang pada 2017 ini masih berdiri bangunan milik BJB Syariah. Kepindahannya ke Jalan Wastukancana memang lebih strategis. Lahan di Wastukancana itu milik Andries de Wilde, seorang tuan tanah Priangan, yang sebelumnya digunakan sebagai gudang kopi. Tahun 1927, gudang kopi diruntuhkan dan berdirilah ruang kerja wali kota beserta taman-taman di plazanya. Ruang kerja wali kota saat ini dinamakan Gedong Papak.




share to whatsapp