Review

Mengenang Para Maestro Seniman Sunda Era 80-90an

share to whatsapp



Seniman Sunda terkenal

Hiburan rakyat di Tatar Sunda merupakan masa yang menjadi kenangan tersendiri bagi generasi era 80-90an. Zaman tersebut, seniman-seniman Sunda mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Merea adalah para seniman yang bergelut dalam bidang yang ditekuninya dengan loyalitas luar biasa, dari pelawak, penyanyi, dalang wayang golek, sampai pendongeng. Mereka jadi idola dan ditunggu kehadirannya oleh masyarakat saat mereka menggelar pertunjukan, muncul di TV, atau lagu-lagu dan siarannya di radio.

Berikut ini beberapa seniman Sunda yang mengisi hari-hari era generasi 80-90an di Tatar Sunda:

1. Seniman Jaipongan: Gugum Gumbira
Sabtu, 4 Desember 2020, masyarakat Sunda kehilangan lagi tokoh seni Sunda. Dialah Gugum Gumbira yang menciptakan seni tari Jaipongan. Jaipongan memulai debutnya pada 1974 ketika Kang Gugum beserta gamelan dan penari pertamanya tampil di depan umum. Jaipong sendiri adalah hasil yang paling populer dari studi Kang Gugum yang memperbarui musik ritual desa bernama ketuk tilu dengan gerakan dari Pencak Silat, seni bela diri Indonesia, dan musik dari tarian teater bertopeng, Topeng Banjet, dan teater Wayang Golek.

Bagi generasi 70-80-an, Jaipongan dikenal sebagai tarian sosial dan populer sebagai tari panggung, dilakukan oleh perempuan, pasangan campuran atau sebagai solo. Seni pertunjukan ini jadi bagian dari pertunjukan hajatan di lembur-lembur sampai event-event seni budaya pemerintahan Bandung dan Jawa Barat, sampai pentas di luar negeri.

Kang Gugum sendiri mengelola sanggar tari dan studio Jugala di Bandung yang juga studio rekaman musik pengiring Jaipongan. Album Jaipongan terpopuler adalah Tonggeret oleh Idjah Hadidjah dan Gugum Gumbira Jugala Orchestra yang dirilis pada 1987. Lewat Jugala Orchestra, Gugum banyak melahirkan album instrumen gamelan Sunda, drum, rebab dan suling, jaipongan, dan musik degung kontemporer.

2. Dalang Wayang Golek: Asep Sunandar Sunarya
Dikenal dengan sebutan Abah Asep, dalang wayang golek asal Jelekong ini sampai sekarang menjadi legenda tersendiri. Kepiawaiannya menampilkan seni pertunjukan wayang kayu tersebut selalu ditunggu oleh masyarakat. Sajian pertunjukan wayang goleknya selain berunsur hiburan juga menyajikan petatah-petitih nilai-nilai kehidupan.

Bagian kemunculan si Cepot, Dawala, Gareng, dan para buta (raksasa) adalah yang sangat ditunggu. Pada segmen ini banyolan-banyolan khas Sunda muncul dan bikin betah lalajo wayang walau waktu saat dini hari pun. Asep Sunandar Sunarya, tutup usia, Senin, 31 Maret 2014.

3. Komedian Sunda: Kang Ibing dan group lawak De Kabayan
Komedian Sunda bernama lengkap Raden Aang Kusmayatna Kusiyana Samba Kurnia Kusumadinata  menjadi legenda tersendiri. Beliau merupakan bagian personel De Kabayan, grup lawak asal Kota Kembang yang terdiri atas: Aom Kusman, Kang Ibing, Suryana Fatah, Wawa Sofyan dan Mang Ujang. Kesemuanya, para komedian legendaris tersebut kini sudah almarhum. De'Kabayan muncul pertama kali pada kisaran tahun 1976.

Pada masa kejayaannya, De Kabayan selain laris diundang untuk mentas juga telah mengeluarkan beberapa album kaset lawakan. Sementara Kang Ibing dan Kang Aom Kusman sampai akhir era 90an dikenal sebagai duo penyiar di Radio Mara Bandung setiap malam Jumat yang menyajikan cerita-cerita bobodoran Sunda.

4. Pendongeng Sunda: Wa Kepoh dan Mang Barna
Ahmad Sutisna atau yang dikenal dengan nama udara Wa Kepoh adalah pendongeng Sunda yang beken di era 80an dengan judul "Si Rawing". Beliau tutup usia pada Sabtu, 28 Desember 2013. Wa Kepoh pandai membuat berbagai karakter suara untuk menciptakan sebuah cerita hingga begitu menarik. Karakter kakek-kakek, nenek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, remaja hingga anak kecil bisa ia tirukan seolah terdapat banyak tokoh.

Nama pendongeng Sunda lain yang terkenal pada era 80-90an adalah Mang Barna. Nama asli pendongeng Sobarna tersebut telah wafat pada hari Senin, 29 Mei 2017 lalu.

5. Sempal Guyon Parahyangan: Si Kundang
Inilah sandiwara radio guyonan Sunda garapan Kang Tisna Suntara dan Kang Andi S. Jauhari di Radio Garuda Bandung. Pada era 80an, siaran sempal guyon ini biasa mengudara setelah dzuhur. Nama-nama tokoh Si Kundang, Ceu Iting, Pak Kurdi, Bah Jangkung, Mak Uti, Mang Minta, Mang Oded, Mas Paijo, hingga Si Tuan mengisi hari-hari hiburan generasi masa Orba tersebut.

6. Penyanyi Sunda: Darso
Nama aslinya Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso. Ia meninggal di Soreang, Kab. Bandung pada 12 September 201. Beliau penyanyi Sudah yang sudah menghasilkan ratusan karya lagu bernuansa pop Sunda.

Pada tahun 2005 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugerah Musik Jabar 2005 dan pada tahun 2009 ia mendapat juga penghargaan dari Wali Kota Bandung Dada Rosada berupa Anugerah Budaya Kota Bandung 2009.



share to whatsapp