Nostalgia Media Komunikasi dan Hiburan Era Generasi 80-90an




Kehadiran smartphone di era sekarang menjadikan semuanya serba praktis. Bayangkan saja, semua alat teknologi komunikasi dan hiburan ada dalam satu genggaman. Dari media menulis surat bisa dilakukan secara online dengan WhatsApp, Telegram, SMS, e-mail dan semacamnya. Juga media hiburan dari radio, player musik, sampai video bisa disaksikan dalam satu layar plus didukung jaringan internet.

Zaman telah berubah sangat canggih, dimana anak-anak generasi milenial mungkin tak bisa membayangkan bagaimana media komunikasi dan hiburan zaman dulu. Ketika seseorang ingin menyampaikan pesan atau informasi begitu penuh perjuangan. Inilah nostalgia media komunikasi dan hiburan era generasi 80-90an yang sudah tergerus zaman.

1. Menulis surat
Kalau sekarang, pesan yang disampaikan bisa secara real time dan langsung ada respon jawaban. Mmmh... kalau era 80-an, bila ingin menyampaikan pesan atau informasi salah satunya menggunakan surat yang dikirim via pos. Tak heran bila kala itu PT Pos dan Giro mencapai masa kejayaannya. Prangko hingga penggunaan telegram (surat cepat) jadi pilihan masyarakat. Maka, kala itu lahirlah budaya saling kirim surat untuk berbalas jawaban. Hingga ada istilah "sahabat pena" dimana kita bisa punya sahabat berkirim surat yang berada nu jauh di daerah lain.

Penggunaan surat ini pun beda-beda jenisnya. Untuk yang lagi jatuh cinta, pilihan menggunakan kertas dan amplop surat dengan aroma wangi jadi favorit para pejuang cinta. Lalu yang fenomenal adalah saat hari raya, misal Hari Raya Idul Fitri. Itu yang namanya kartu lebaran jadi primadona masyarakat. Toko buku sampai pusat perbelanjaan akan menghadirkan rak khusus buat menjual kartu lebaran. Uniknya ada perjuangan merangkai dengan menulis kata-kata indah berisi ucapan selamat Lebaran.

Tak ketinggalan pula, selain menggunakan telepon rumah/umum, radio-radio membuka akses request lagu atau kirim-kirim salam dari pendengar dengan menggunakan kartu pos. Lebih seru lagi, para selebritas pun bisa menyediakan alamat surat bagi penggemarnya yang ingin berinteraksi. Beda dengan zaman sekarang yang bisa melihat keseharian selebritas di akun media sosialnya atau di tayangan televisi. Maka, ketika surat kita dibalas si artis adalah kebanggaan tersendiri. Apalagi bila disertai dengan dikasi foto si artis (walau mungkin yang membalas surat ada tim manajemen si artis).

2. Serunya berkomunikasi dengan radio amatir
Break.....break...... Break... break...Apa bisa dicopy? Rojeeerrrr.... Itulah kode yang jadi isyarat ketok pintu yang harus diucapin oleh breaker yang baru mau ikutan gabung di ajang ngobrol lewat radio amatir, alias radio CB (citizen band) di zaman 80-an.

Punya CB adalah kegiatan yang termasuk mainan anak-anak muda kelas menengah ke atas, karena memang perlu modal lebih. Selain ada yang pakai sistem sinyal, ada juga radio amatir kelas kampung yang menggunakan kabel tembaga sebagai penghubungnya. Tak heran bila antar rumah ranteng kabel-kabel tembaga tersebut. Bagi yang punya modal lebih, bikin menara antena adalah pilihan yang sangat mendukung buat rojer-rojer ria.

Para breaker pun rela begadang semalaman, bahkan tak sedikit yang kemudian membangun komunitas sampai bertemu jodoh lewat jalur udara tersebut. Bahkan fenomena ini sempat diabadikan dalam lagu "Bercinta di Udara" yang dinyanyikan penyanyi asal Sukabumi yakni Farid Hardja yang dirilis pada tahun 1983 di bawah label Ria Cipta Abadi.

3. Telepon umum dan wartel
Kalo ini di Bandung sendiri sampai ka pasisian mulai rame menjelang 90an. Kalo untuk telepon rumah dan telepon umum sih di pusat Kota Bandung dari 80an sudah biasa. Dan makin ke sini telepon umum dan telepon rumah mulai merambah ke diskotik alias "di sisi kota saeutik" seperti di wilayah Bandung Timur dan Bandung Selatan.

Mengantre di telepon umum pun jadi pemandangan tersendiri. Sang calon penelopon pun sudah siap sedia membawa recehan, biasanya koin seratus perakan. Bahkan di zaman itu, tak sedikit pula yang "ngulik" dengan satu koin bisa menelepon lama. Ada yang pernah melakukan cheat telepon umum zaman itu? Perkembangan selanjutnya selain mengunakan koin, juga hadir telepon umum menggunakan kartu/chip. Salah satu lokasi telepon umum yang legendaris di Bandung waktu itu ada di area tangga (tengah) mall Bandung Indah Plaza (BIP).

Selepas telepon umum, hadirlah wartel alias "warung telekomunikasi". Pembayaran dilakukan berdasarkan lama nelepon yang tarifnya terpasang di atas telepon. Kaum muda yang lagi kesengsem asmara pun bisa lebih betah lama-lama nelepon di wartel. Era wartel ini berlangsung hingga akhir 90an, dimana kemudian hadir teknologi pager (tidak lama) dan kemudian hari muncul telepon seluler dengan ukuran besar dan harga selangit.