Secuil Kenangan Keseharian Budak Bandung Tahun 1980-1990an




Bagaimana suasana keseharian di Bandung tahun 1980-1990an? Ini merupakan secuil kenangan dari budak (anak) Bandung yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar hingga 90an di tingkat SMP. Menggali lagi kenangan Bandung 1980-1990an memang lupa-lupa ingat, namun patut di-share bagi anak-anak milenial zaman sekarang untuk membandingkan Bandung baheula dengan kiwari (sekarang).

Masa itu jangan membayangkan riuhnya teknologi seperti sekarang terutama smartphone dan internet, yang mengubah tatanan sosial di zaman sekarang. Dulu, untuk hiburan utama yang ada hanyalah radio, televisi, dan video. Untuk dua terakhir, hanyalah dimiliki orang-orang berpunya yang dengan suka hati membuka pintu rumahnya untuk menonton video atau main games console Nintendo atau Sega.

Ada baiknya biar runut membayangkan Bandung jaman harita, enaknya dengan runut dalam aktivitas keseharian berikut:

Bangun tidur hingga berangkat sekolah
Saat bangun tidur, dinginnya Bandung di subuh hari kerasa banget waktu itu. Paduan udara dingin dan segarnya hawa pagi adalah kenangan tersendiri dimana bangunan-bangunan perumahan di Bandung belum sesempit sekarang.

Kadang, selepas adzan Subuh, radio-radio di setiap rumah pun biasanya menyala saling bersahutan. Ada yang mendengarkan siaran ceramah Zainuddin MZ, Abah Kabayan (Bapaknya Doel Sumbang), atau ceramah basa Sunda dari KH Totoh Ghozali. Dan semakin mendekati jam 6 pagi seiring terangnya sinar matahari ditutup dengan lagu-lagu qasidahan dari Nasida Ria. Bila hari Minggu, yang pengen bangun agak siang sekitar jam 9, kepaksa harus terbangun karena tetangga menyetel keras radionya yang menyiarkan siaran Filsafat Pancasila dengan penyiar khas Tedjo Sumarto yang direlay dari RRI Pusat.

Buat mandi, ada yang sudah punya kamar mandi sendiri dan juga yang punya kamar mandi di luar rumah dengan dipakai bersamaan bareng tetangga. Untuk ngambil airnya ada yang harus nimba dulu di sumur atau memompa air dengan pompa air legend bermerk Dragon. Setelah itu, anak-anak SD yang sudah berseragam sarapan lalu siap berangkat sekolah dengan uang bekal rata-rata Rp100.

Untuk berangkat ke sekolah pun yang dekat bisa jalan kaki dengan ngabring bareng teman-teman. Sedangkan bagi yang agak jauh ke sekolah bisa naik angkot (kadang disebut Honda) atau naik becak langganan. Satu yang jadi ciri khas waktu itu, biasanya hari Jumat sebelum masuk ke kelas diadakan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ).

Pulang sekolah hingga menjelang tidur
Ini yang jadi asyikinya zaman itu, dimana beda dengan zaman sekarang yang kebanyakan anak-anak langsung "diasuh" gadget. Waktu itu, setelah mengganti seragam sekolah biasanya langsung main atau ada juga yang tidur siang. Dan semakin sore, kegiatan bermain semakin asyik. Salah satu lokasi paling favorit waktu itu adalah area terbuka atau lapangan. Anak-anak bisa mabar alias main bareng dengan bermain aneka permainan tradisional, dari ucing sumput, galah asin, sorodot gaplok, maen kelereng, atau main bola dengan gawang dari sendal capit.

Dan mendekati magrib adalah alarm bagi anak-anak untuk pulang ke rumah masing-masing. Segera mandi dan makan sore. Bila masih ada waktu, bisa juga bareng-bareng nonton siaran TVRI yang menyiarkan siaran kartun yang disukai anak-anak seperti: Silver Hawk, He Man, The Mask, Tranformers, dll. Selanjutnya, memasuki era 90an, pilihan tayang TV pun semakin banyak dengan hadirnya TV-TV Swasta seperti RCTI, SCTV, TPI, ANTEVE, LATIVI, Trans7, Global TV, dll.

Lalu ba'da magrib ikutan ngaji di rumah tetangga yang guru ngaji, di surau, atau masjid. Kegiatan ngaji ini pun tak luput dari melepaskan energi bermain juga. Setelah Isya, barulah dilanjutkan dengan belajar secara mandiri di rumah masing-masing. Kalau malam Minggu, bisa santai bareng keluarga nonton aneka hiburan di TVRI seperti Aneka Ria Safari, Selekta Pop, dll.

Nuansa Ramadhan menjelang Lebaran
Saat Ramadhan pun jadi kenangan tersendiri bagi generai 1980-1990an. Salah satunya harus ikut mendengarkan ceramah tarawih dan salatnya juga. Kenapa mesti? Karena kalau enggak, gak bakalan bisa ikutan meminta tanda tangan penceramah sekaligus imam tarawih di buku tugas kegiatan Ramadhan yang disuruh sama pihak sekolah. Sekaligus juga mencatat amalan-amalan kita yang lain selama bulan Ramadhan, seperti catatan salat 5 waktu, berpuasa atau enggak, sampai catatan ikut ngeluarin zakat.

Yang paling asyik tentunya menjelang Lebaran. Yang terbayang adalah bakal dibelikannya baju baru sampai nanti pas Lebaran dapat uang lebih buat beli jajanan kesukaan seperti es krim. Yup, namanya jualan es krim zaman itu gak kayak sekarang yang bisa dijumpai dimana saja. Dulu mah, namanya es krim itu termasuk barang mewah sama halnnya dibeliin produk fast food. Jajanan lain yang paling favorit waktu itu mie Anak Mas, permen Sugus, cokelat, hingga aneka aksesoris layaknya super hero.

Nah, kalo mendekati Lebaran? Tempat-tempat belanja di pusat kota atau pasar dekat tempat tinggal jadi pilihan. Tentunya pula nama Alun-alun Bandung jadi spot wajib buat dikunjungi buat belanja pakaian sekaligus ngabuburit sambil main di Taman Alun-Alun, Romano Plaza, King's, Parahyangan Plaza, atau mall Palaguna (kini sudah gak ada). Mungkin bagi generasi 1980-1990an, pernah merasakan maen aneka wahana di King's seperti naik kereta si Ulil atau main dingdong di Romano Plaza?

Sementara orang tua akan mengajak kita belanja di pusat perbelanjaan yang ada di Alun-Alun Bandung seperti Robinson, Ramayana, Matahari, Yogya, dan lainnya. Dan suasana Lebaran akan begitu kerasa banget bila di tempat-tempat belanja pakaian tersebut diperdengarkan backsong lagu-lagu religi dari Bimbo, seperti "Lebaran Sebentar Lagi", "Puasa", "Tuhan", "Bermata Tapi Tak Melihat", "Sajadah Panjang", "Rindu Kami Padamu", "Setiap Habis Ramadhan", dan lainnya.