Review

Wisata Keluarga di Taman Alun-Alun Bandung





Pada Senin, 5 Januari 2015, tim wisatabdg.com mencoba "menjajal" taman hasil revitalisasi di Kota Bandung yaitu di Taman Alun-Alun. Kami mengunjungi Taman Alun-Alun pada sore hari. Kebetulan pada hari itu cuaca cerah dari pagi hingga malam hari. Kami memarkir kendaraan di basement Taman Alun-Alun. 

Kami pun lalu menuju lokasi taman yang persis ada di atas parkiran. Kami melewati tangga di sebelah utara (dekat BRI Tower/halte bus). Pas menaiki tangga terlihat beberapa anak kecil sedang menuruni anak tangga, "Capek Kang, tos maen bal..." (Capek Kang habis main bola) demikian jawaban ketika salah seorang anak ditanya.

Info taman lainnya:
- Pet Park Bandung
- Taman Jomblo Bandung
- Taman Superhero Bandung
- Profil dan Alamat Taman-Taman Tematik di Kota Bandung 

Taman Alun-Alun: Lain Dulu, Lain Sekarang

Setelah menaiki beberapa anak tangga, kami melihat suasana lain yang ada di Taman Alun-Alun Bandung ini. Hamparan luas rumput sintetis warna hijau di depan kami terbentang dan menyaksikan arena bermain terbesar yang mungkin ada di Bandung. Ingatan pun menerawang pada kondisi Taman Alun-Alun sebelum seperti ini. Kami yang lahir dan besar di Bandung, waktu anak-anak pernah merasakan magnet Taman Alun-Alun tahun '80-90'an. 

Waktu itu, ketika puas bermain di Parahyangan Plaza, Plaza Romano, atau Palaguna Nusantara, biasanya kami melepas lelah dengan duduk-duduk di Taman Alun-Alun. Jauh beda dengan keadaan sekarang, ketika waktu itu kami merasa "bersekat" antarsesama pengunjung karena adanya "pot-pot" besar sebagai penyekat. Belum lagi dengan kekumuhan yang ada. Tukang dagang menggelar lapak dagangannya di area taman ini. 

Malah, dulu sampai ada arena judi kecil-kecilan di antara pedagang yang notabene berjualan di depan Masjid Agung yang disucikan sebagai tempat ibadah. Belum lagi para pengemis yang berseliweran meminta-minta kepada para pengunjung. Jika sedang sial, kadang kami pernah merasakan dipalak oleh para berandalan di WC umum yang tepat berada di bawah taman. Apalagi pada malam hari, para kupu-kupu malam pun "membuka cabang" di sini, selain di Saritem.

Ikon Taman Alun-Alun pada era tersebut tak lain adalah air mancur. Keberadaan air mancur tersebut menjadi penanda bahwa pengunjung pernah ke Alun-Alun, yaitu dengan difoto di depan air mancur. Untuk foto-foto, kalau tidak membawa kamera sendiri, ya... bayar saja ke tukang foto keliling yang siap menjepret pengunjung di depan air mancur dengan kamera langsung jadinya. Jika ingin mengisi perut, tinggal membeli makanan kepada para pedagang yang matuh menggelar dagangan ataupun pada tukang asong.

Taman Alun-Alun dan Index of Happiness Warga Bandung
Sore itu, kami duduk di pinggir taman dan menyaksikan anak-anak berlarian ke sana ke mari di antara beberapa pengunjung yang kebanyakan adalah keluarga. Sandal dan sepatu pun terlihat berjejer di pinggir taman. Para pengunjung orang tua kebanyakan duduk-duduk santai sambil memperhatikan anak-anak mereka bermain. 

Di ujung utara Taman Alun-Alun ini kami melihat anak-anak sedang bermain perosotan dan gelantungan di palang-palang besi yang disediakan. Uh, rupanya arena mainan ini sangat kurang dibanding jumlah anak-anak yang datang di hari itu. Kami hanya bisa tersenyum ketika ada anak yang menangis karena tidak kebagian giliran.

Mata kami pun mengarah ke sebelah selatan, persis di seberang BRI Tower. Mmh... ternyata ada tulisan super badag enjum: ALUN-ALUN BANDUNG. Inilah  mungkin yang menurut ilmu tata kota, taman dan semacamnya adalah penanda lokasi di suatu kota. Bagus juga. Namun, ketika kami melihat ke arah timur terasa ada sesuatu yang hilang "terenggut" dari kenangan-kenangan kami di masa lalu, yaitu hilangnya bangunan Palaguna Nusantara.

Namun kami memilih melihat-lihat kembali suasana Taman Alun-Alun Bandung sambil ngalor ngidul mengomentari keadaannya sekarang. Di sebelah selatan, persis di Jln. Dalem Kaum masih berdiri megah gedung Parahyangan Plaza yang berubah menjadi sentra distro. Sementara, Masjid Agung Bandung beralih nama menjadi Masjid Raya Bandung, Provinsi Jawa Barat. 

Bangunan masjid bersejarah di Kota Kembang ini kini semakin terlihat megah. Ingatan kami terbayang pada jembatan tangga yang dulu menghubungkan taman ini dengan Masjid Agung. Ya, dulu persis di depan Masjid Agung adalah jalan. Kini jalan itu hilang seiring dengan perluasan Masjid Agung  Hanya yang agak terlihat agak sareukseuk, bekas bangunan Hotel Swarha seakan terdesak dan agak menganggu pemandangan.

Namun, itulah wajah Taman Alun-Alun Bandung sekarang. Taman yang legendaris yang dulunya pernah dipaklai buat menggantung tahanan hingga dijadikan lapangan sepak bola. Kini telah di era modern ini telah berubah semakin "manis". 

Buktinya, banyak pengunjung yang datang. Pengelolaan rumput sintetis pun sepertinya sudah dipikir matang-matang. Kami sempat membayangkan jika dipakai rumput alami, mungkin teu kaop jadi langsung terinjak-injak dan banyak sampah bekas potongan rumput. Belum lagi pemeliharaannya, sementara di bawah adalah area parkir. Urusan beginian mungkin sang Wali Kota sang arsitek yang lebih paham, makanya menggunakan rumput sintetis juga.

Hari menjelang magrib, dan kami mendengar sayup-sayup anggota Satpol PP (?) yang tak henti mengingatkan pengunjung agar memperhatikan anak-anaknya, jangan membuang sampah sembarangan, dan ragam himbauan lainnya. Hiruk pikuk suara anak-anak, para pedagang balon, dan para pengunjung yang ngobrol benar-benar larut menikmati suasana Taman Alun-Alun konsep baru ini. Belum lagi di zaman serba media sosial kini, para pelaku foto selfie dengan senjata tongsisnya turun menghiasi aktivitas di Taman Alun-Alun sore itu. 

 Di tengah wajah-wajah sumringah warga yang berekreasi ke Taman Alun-Alun, kami sempat membicarakan tentang fasilitas dan kondisi Taman Alun-Alun. Saat kami memarkir kendaraan di basement, rasanya masih ada yang perlu dibenahi. Selain suasananya agak gelap, juga masih ada air yang menetes dari atas dan menggenangi beberapa titik lahan parkiran. 

Begitu juga aroma kurang sedap di area rumput sintetis yang bau suku (kaki), agak mengganggu indera penciuman. Mungkin ada baiknya disediakan tempat cuci kaki sebelum menginjak areal rumput sintetis. Dan itu, yang paling perlu diperhatikan juga masalah ketersediaan wahana mainan anak-anak yang perlu ditambah jumlah dan jenis permainannya. 

Ketika kami asyik menikmati suasana Taman Alun-Alun edisi "revisi" ini, terdengar adzan magrib dari Masjid Raya Bandung. Alunan kalimatullah, memanggil kami untuk masuk ke masjid megah ini. Semoga penataan Kota Bandung lambat laun bisa terasa manfaatnya bagi warga. Dan tentunya pula semua lapisan masyarakat yang merasa mencintai Bandung bisa menjaga dan mau bersama-sama menjaga dan memelihara segala fasilitas publik yang ada di Kota Kembang tercinta ini.

Taman Alun-Alun Bandung
Jln. Dalem Kaum Bandung
[Lihat peta lokasi]

Dokumentasi:
- Foto-foto di Taman Alun-Alun Bandung lihat di sini.
- Video Taman Alun-Alun Bandung tonton di sini.