Review

Kisah Sukses Lumpia Basah Mas Miun: Ketika Kesulitan Biaya Kuliah Menjadi Berkah (3)




Mitra Binaan Berbasis Sosial
Nanda kemudian mengembangkan usaha miliknya dengan sistem waralaba (franchise). Ia menggunakan konsep mitra binaan. Sekarang waralaba lumpia basah Mas Miun sudah ada 25 cabang, antara lain di Cimahi, Subang, Cilame, Bumi Kencana Rancaekek, hingga di Tangerang.  Sementara seiring perjalanan usaha, ia pun mengelola usaha dengan lebih profesional. Dalam hal ini, ia juga membuka peluang pemberdayaan usaha kerja sama dengan mahasiswa dan masyarakat.

Misalnya, untuk bahan toge ia kerja sama dengan para petani toge di Desa Cileles, Jatinangor (dekat Jembatan Cincin). Untuk kiriman toge dari Cileles, Nanda mengaku per hari bisa sampai 25 kg. Di lain pihak, ia pun tak segan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya dalam mengembangkan usaha. Ia kerap menjadi motivator dan mentor di berbagai seminar dan pelatihan wirausaha. Sementara untuk visi dan misi ke depan, ia tengah menyiapkan agar lumpia basah Mas Miun bisa ekspansi ke ranah nasional.

Sadar bahwa banyak teman kuliahnya yang bernasib sama saat ia dulu awal-awal jadi mahasiswa, ia pun menggelar program aksi sosial dengan tema "Jika Aku Jadi Mas Miun". Program ini adalah kegiatan pemberian beasiswa kepada mahasiswa tapi bukan bentuk uang namun modal usaha. Hingga kini, sudah ada lebih dari 30 usaha yang dikelola mitra binaannya yang sudah jalan. Semua menggunakan dana dana bergulir yang dikucurkan Nanda. Untuk jenis usaha, para mitra binaam dari ragam produk, mulai yang jualan keripik, fashion, dagang online, fastfood, usaha perlengkapan kebutuhan mahasiswa, dsb. 

Mitra Binaan Mas Miun ini biasanya diberi dana awal antara Rp. 300.000,-  hingga Rp. 3 juta (bergantung jenis usaha). Nanda menuturkan, sampai sekarang sudah habis sekitar Rp. 20 jutaan dan itu terus bergulir di sesama para pelaku usaha binaannya. Artinya, uang pinjaman tersebut tak pernah ia ambil kembali ke sakunya, namun ia gulirkan terus untuk membuka munculnya peluang pelaku usaha lainnya. Para mitra tersebut, sebelum terjun untuk usaha sendiri ia bimbing dan dievaluasi berkala dalam belajar usaha hingga akhirnya dilepas untuk bisa membuka usaha secara mandiri.

Para pelaku usaha binaannya ada dari mahasiswa baru (maba), teman seangkatan, senior, dan masyarakat umum yang biasanya ia kenal baik lewat pola curhat. Kunci sebelum dilepas untuk usaha sendiri, Nanda biasanya melakukan tes mental usaha dengan memberi produk kepada sang calon pelaku usaha untuk berjualan. Upaya pemberdayaan usaha dengan pola tersebut rupanya cukup efektif. Terbukti sekarang banyak mitra binaannya yang sudah berkembang usahanya. Bukan hanya di kawasan Jatinangor namun juga sudah berkembang hingga ke daerah-daerah lain di luar Jatinangor. *Tim liputan wisatabdg.com

Baca artikel terkait lainnya: 
- Kisah Sukses Lumpia Basah Mas Miun: Ketika Kesulitan Biaya Kuliah Menjadi Berkah (1)
- Kisah Sukses Lumpia Basah Mas Miun: Ketika Kesulitan Biaya Kuliah Menjadi Berkah (2)