Review

Jelajah Wisata Sejarah di Seputaran Bandung



Tempat wisata sejarah di Bandung

Bagi Anda yang hobi menjelajah suatu kota dan ingin lebih mengenal lebih mendalam tentang sejarah kota tersebut, Bandung bisa jadi salah satu pilihan. Di Bandung banyak jejak peninggalan masa lalu, dari zaman purba sampai zaman kolonial. Jejak peninggalan sejarah tersebut bisa Anda lihat di berbagai sudut di Kota Bandung. Jelajah wisata sejarah pun bukan sekadar ingin mengetahui asal muasal atau kisah suatu tempat, namun banyak spot menarik yang bisa dipotret dengan kamera Anda.

Sebelum menjelajah wisata sejarah di Bandung, ada baiknya perhatikan faktor waktu dan akses kendaraan ke tempat-tempat wisata tersebut. Hal ini karena banyak sekali tempat wisata yang bisa disambangi dan tidak bisa selesai 1-2 hari. Begitu pula faktor alat transportasi yang Anda gunakan, maklum saja di Bandung kini banyak titik kemacetan. Lebih baik Anda menggunakan kendaraan roda dua, misalnya dengan menyewa ojek wisata. Anda bisa seharian puas berkeliling di Bandung.

Untuk tempat-tempat wisata sejarah sendiri, berikut ini beberapa tips informasi yang semoga berguna buat Anda.

1. Wisata Jejak Bandung Purba
Bandung sekarang dulunya adalah kawasan danau purba yang jejak-jejaknya masih ada, salah satunya di Sanghyang Tikoro. Ini merupakan tempat bobolnya aliran air dari danau purba berupa gua dan sungai bawah tanah yang terletak di Kecamatan Cipatat, Rajamandala, Bandung Barat. Lokasi wisata yang terkenal di sini ada Stone Garden.

Kawasan Citatah adalah bagian tepi Barat Danau Purba Bandung. Perbukitan Citatah merupakan kawasan kars, yaitu kawasan perbukitan yang gersang, kering, dan tidak subur karena batuan yang terdapat pada perbukitan ini berupa batu kapur dan batu gamping. Di tempat ini, persisnya di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, terdapat sebuah situs purbakala yang bernama Gua Pawon.

Gua Pawon menarik perhatian ketika tahun 2000 ditemukan jejak kehidupan purbakala oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Penemuan tersebut berupa alat-alat yang terbuat dari batu dan tulang, gerabah, sisa-sisa tulang dan beragam jenis gigi binatang, cangkang siput, sampai biji buah-buahan. Benda-benda prasejarah tersebut ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak.

Penemuan pertama tersebut seolah memberikan titik terang tentang zaman prasejarah dan keberadaan manusia prasejarah di Jawa Barat. Kemudian, ketika dilakukan penggalian lanjutan di Gua Pawon pada tahun 2003 didapatkan hasil yang lebih mencengangkan. Para ahli menemukan beberapa tengkorak dan kerangka lengkap manusia prasejarah, alat-alat dari batu dan dari tulang, serta puluhan ribu sisa tulang-tulang binatang.

2. Wisata Museum
Untuk wisata ini Anda bisa mengunjungi museum-museum di Bandung yang punya tema masing-masing. Di antaranya ada Museum Geologi (kebumian); Museum Sri Baduga (sejarah Jawa Barat); Museum Mandala Wangsit (sejarah Kodam III/Siliwangi); Museum Pos; Museum Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat; Museum Gedung Sate (sejarah pembangunan Gedung Sate); Museum Konferensi Asia Afrika (KAA); atau ke Bandung Planning Gallery di Balai Kota.

3. Wisata Gedung Tua
Wisata ini cocok bagi yang hobi memotret. Anda bisa menjelajah gedung-gedung tua (heritage) di kawasan Alun-Alun Bandung, Jln. Braga, dan sepanjang Jln. Asia Afrika. Juga melihat gedung bernuansa art deco yang tersebar di beberapa kawasan di Bandung, misalnya gedung Bank BJB (dulu Dennis Bank), Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann (Bidakara), Hotel Preanger, Bumi Siliwangi (Villa Isola/Kampus UPI Bandung), dll. Untuk gedung tua lainnya ada di kompleks militer Kodam III/Siliwangi di kawasan dekat Stadion Siliwangi sampai arah Pasar Kosambi atau bisa di Jln. Aceh.

4. Wisata Jejak Peninggalan Soekarno
Ada banyak peninggalan jejak Presiden pertama RI ini selama beliau di Bandung. Salah satu lokasi yang kerap dilupakan, ada rumah Ibu Inggit Garnasih (istri pertama Ir. Soekarno) di Jln. Ciateul (dekat Tegallega/Astana Anyar). Ibu Inggit sendiri dimakamkan di pemakaman Porib dekat Pasar Induk Caringin Bandung.

Jejak peninggalan Soekarno lain ada kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jln. Ganesha tempat dulu Ir. Soekarno belajar arsitek. Hasilnya ada juga gedung-gedung rancangan Soekarno di Bandung yang masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Anda bisa menyambangi bangunan karya Soekarno di Bandung, di antaranya:
- Deretan rumah di Jalan Kasim No. 6, 8, dan 10. Rumah karya Soekarno yang dibangun pada tahun 1925.
- Bangunan rumah di Jalan Kaca-kaca Wetan No. 8 yang dibangun pada tahun 1930.
- Bangunan di bagian selatan pendopo Kota Bandung di Jalan Dalem Kaum yang dibangun pada tahun 1935.
- Gedung Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GKPRI) di Jalan Lengkong.
- Gedung paviliun utara Hotel Grand Preanger di Jalan Asia Afrika No. 81.
- Bangunan rumah di Jalan Palasari No 5 yang dibangun tahun 1931.

Lalu untuk saksi perjuangannya ada Gedung Indonesia Menggugat di Jln. Perintis Kemerdekaan (sebelah barat Balai Kota Bandung). Lalu ada di kawasan Banceuy dekat Alun-Alun Bandung yakni sel penahana Soekarno.

Di kawasan ini pun ada Gedung Merdeka dimana Soekarno dulu mencetuskan diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Anda bisa menyambangi museumnya. Tempat lainnya ada di kawasan timur yakni LP Sukamiskin, namun harus ada izin dulu untuk melihat bekas sel Bung Karno tersebut.

5. Wisata Barang Antik dan Buku Jadoel
Anda bisa juga membeli atau melihat barang-barang antik zaman tempo doeloe di Pasar Barang Lawas Cikapundung atau Pasar Nostalgia Bandoeng. Di sini ada juga yang menjual piringan hitam dan buku zaman dulu. Untuk yang senang koleksi buku-buku lawas, bisa ke Jln. Dewi Sartika atau ke Pasar Palasari Bandung. Di sini, buku semacam Di Bawah Bendera Revolusi karya Ir. Soekarno masih ada pedagang yang jual.

6. Monumen
Monumen sebagai tugu peringatan di Bandung juga bisa jadi destinasi wisata yang bisa Anda sambangi. Anda bisa datang ke Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jln. Dipatiukur. Atau ke daerah selatan ada Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega Bandung. Lebih selatan lagi di kawasan Jln. Dayeuhkolot tepatnya di Kompleks Zipur ada monumen pahlawan Toha yang meledakkan gudang mesiu milik Belanda saat peristiwa Bandung Lautan Api.

7. Wisata Jalur Kereta Api
Selain di Stasiun Bandung, ada bekas jalur kereta api yang menghubungkan kawasan-kawasan di Bandung Raya saat zaman kolonial dulu. Jejaknya masih bisa dilihat di kawasan Ciwidey atau di Jatinangor (Jembatan Cincin dekat Kampus Unpad).

8. Kawasan Pecinan
Ini juga menarik perhatian wisatawan, salah satunya dengan adanya destinasi wisata Chinatown di Jln. Kelenteng no. 41 Bandung. Di kawasan yang ada di wilayah Kec. Andir ini, Anda bisa juga menjelajah melihat peninggalan sejarah jejak Pecinan dari dulu hingga sekarang. Lokasinya membentang di Jln. Kelenteng - Jln. Cibadak.

9. Gedung Pendidikan dan Pemerintahan
Beberapa gedung kampus dan sekolah peninggalan kolonial di Bandung masih berdiri sampai sekarang. Salah satunya yang terkenal yakni kampus ITB. Lalu lainnya gedung SMAN 3 dan SMAN 5 di Jalan Belitung (dekat Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani).

Bangunan sekolah ini merupakan gedung tua yang dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, dirancang oleh arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang berfungsi sebagai gedung Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS) yaitu sekolah menengah untuk bangsa Belanda dan kalangan ningrat Indonesia (sekolah setaraf gabungan SMP (MULO) dan SMA (AMS) dengan masa studi 5 tahun).

Tak jauh dari sini ada gedung SMPN 2 Bandung (Jalan Sumatera no. 42) yang menempati bangunan bekas sekolah Belanda, yaitu Europeesche Lagere School (sekolah rendah diperuntukkan bagi warga Eropa - setingkat Sekolah Dasar pada masa kini) yang dibangun pada tahun 1913 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang. Posisinya kira-kira 400 meter di sebelah selatan Kantor Wali Kota Bandung

Lalu ada Gedung Polrestabes Bandung di Jalan Merdeka yang didirikan pada tahun 1866. Dulunya berfungsi sebagai Sekolah Guru (Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijzers) yang didirikan atas inisiatif seorang Belanda bernama K.F. Hole.

Di sebelah timur Tegallega terdapat sebuah sekolah pangreh praja tingkat menengah, yaitu Middelbare Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) yang didirikan tahun 1910. Gedungnya yang bergaya neo-klasik masih berdiri dan terawat cukup baik hingga sekarang (digunakan sebagai Gedung Hubdam III Siliwangi).

Di sebelah selatan Tegallega, berdiri sekolah Hoofdenschool yang pada tahun 1900 berubah menjadi Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pangreh praja tingkat dasar.